“Belanja Masalah pada Masyarakat” Dibayar dengan Teori Khas Indonesia: Merespon Menteri Brodjonegoro

Pemerintah era Prabowo Subianto tampaknya akan mengganti orientasi pendidikan tinggi di Indonesia. Jika pemerintahan sebelumnya pendidikan tinggi berkutat dengan tenaga terampil atau ahli, plus capaian internasionalisasi (yang ternyata bukan perkara mudah), menjadi “yang berdampak kepada masyarakat”. Hal ini yang kemudian dioperasionalkan menjadi “belanja masalah pada masyarakat”. Banyak lulusan yang memiliki kompetensi tinggi, tapi industri belum secanggih yang dibayangkan lulusan. Dengan demikian yang dibutuhkan sarjana yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Ide dan pernyataan Menteri dapat kita anggap sebagai penguat gaung dari pidato Selo Soemardjan, tokoh sosiologi Indonesia pada dies natalis FISIP Universitas Indonesia. Saat itu ia menyatakan bahwa yang dituntut dari pengembangan ilmu sosial di Indonesia adalah supaya dapat dikembangkan ilmu-ilmu sosial yang berakar dari masyarakatnya sendiri. Dia juga menambahkan perlunya ilmu sosial terapan. Menurutnya ilmuwan Indonesia kuat dalam ilmu sosial tentang pembangunan (Indonesia), tapi kurang kuat dalam ilmu sosial untuk pembangunan (Indonesia). Pendapat ini perlu kita tekankan karena “untuk” Indonesia dapat kita artikan sebagai ilmu yang lahir karena adanya kebutuhan atau penggalian dari ilmuwan Indonesia dari Indonesia agar dapat menyelesaikan masalah orang Indonesia.

Beranjak dari pemikiran itu kita perlu mengetahui modal dasarnya, yakni keberagaman latar sosial budaya Indonesia. Kita tentu tahu Bapak Antropologi Indonesia, Koentjaraningrat menyatakan bahwa Indonesia sebagai laboratorium sosial terbesar di dunia. Hal ini yang kemudian diperkuat dengan riset mendasar tentang stereotip orang Indonesia oleh Suwasih Warnaen (tokoh psikologi sosial Indonesia). Hal yang menarik adalah, apakah ada lanjutan dari ide ini?

Perkembangan psikologi tampaknya tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Soemardjan. Di era awal pendidikan psikologi lahir mungkin konsep Kita dan Kami dari Fuad Hassan adalah terobosan teoretik konseptual untuk psikologi itu sendiri. Namun dalam perkembangan selanjutnya, polanya menjelaskan gejala manusia Indonesia berdasar teori barat. Penekanan pada gejala dan upaya menjawab dengan modal pemahaman keindonesiaan itu sendiri masih amat terbatas.

Memasuki dasawarsa kedua abad 21, mulai ada peneliti-peneliti psikologi yang mulai melihat perlunya menjawab tantangan Soemardjan, dan meneruskan langkah Hassan dan Warnaen. Ada beberapa konsep baru yang diperkenalkan oleh ilmuwan psikologi sosial (yang diterbitkan di media ilmiah asing), yakni Idhamsyah E Putra. Konsep-konsep itu adalah MetaPrejudice, Human Nature Approach, serta TOPASC, yang idenya muncul dari memahami problem-problem sosial di Indonesia.

MetaPrejudice adalah bagaimana memandang orang lain berprasangka terhadap yang lain. Human Nature Approach adalah satu pendekatan yang digunakan untuk menangkal/mengurangi prasangka dan rasa benci pada orang lain. TOPASC, the Psychology of Atrocities in Societal Contexts adalah satu konsep yang memahami kejadian kekerasan masal sangat erat dengan konteks di mana kejadian tersebut muncul.

Selain yang dimunculkan di luar negeri, saya beserta sejumlah kolega mengelaborasi konsep modal sosial Indonesia menjadi konsep psikologi sosial Indonesia. Kami menyebutnya sebagai konsep nilai nasional dan bhinneka tunggal ika.

Seperti dikatakan Menteri Brodjonegoro, banyak masalah yang perlu “dibelanja” oleh para ilmuwan. Namun jangan lupa, setelah belanja dibayar dengan mata uang lokalnya (ilmu) juga. Ilmu yang telah ada di masyarakat dan dikembangkan menjadi konsep yang terukur. Hal ini dilakukan agar kesenjangan ilmu dan masyarakat tidak makin lebar.

Author

  • Eko A Meinarno, dosen psikologi sosial di Universitas Indonesia. Kajian yang digeluti adalah psikologi sosial dan psikologi kebangsaan.

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait