Kontak mata adalah perilaku komunikasi nonverbal yang penting yang sebagian besar dari kita menggunakannya dalam interaksi sosial. Kita tahu bahwa kontak mata membantu orang untuk mengkomunikasikan minat dan ketertarikan mereka terhadap pasangan berkomunikasi. Kontak mata juga penting untuk mengkomunikasikan ketertarikan dalam berinteraksi sosial dengan seseorang. Seringkali, kita harus menjaga kontak mata untuk memahami dan merespon terhadap petunjuk sosial dari orang lain. Kegagalan dalam melakukan kontak mata juga bisa disalah artikan oleh orang lain sebagai tidak tertarik ataupun tidak memperhatikan. Bagaimana dengan mereka yang hidup dengan autisme?
Autisme merupakan gangguan neurologis dan perkembangan yang memiliki spektrum, yang artinya sangat bervariasi dalam tampilan dan keparahannya di antara pada individu-individu dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Misalnya, individu dengan ASD seringkali menghindari kontak mata. Hal ini dikarenakan sebuah area di otak yang dikenal dengan dorsal parietal cortex yang kurang aktif ketika kontak mata pada individu dengan ASD dibanding individu tanpa ASD. Semakin parah diagnosa ASD maka semakin kurang aktif bagian otak tersebut.
Dengan demikian, kontak mata dapat sangat menantang dan membuat stres bagi individu dengan autisme – dewasa maupun anak-anak. Ada banyak buku-buku dan artikel yang ditulis oleh individu autisme dewasa yang menjelaskan tekanan yang mereka rasakan ketika otang tua ataupun guru (yang bermaksud baik sebenarnya) memaksa mereka untuk kontak mata ketika berbincang-bincang. Bahkan banyak dari mereka merasa lebih terdistraksi dan tidak dapat fokus pada pembicaraan karena adanya desakan tersebut. Sedangkan ketika orang-orang memberikan kelonggaran dalam berkomunikasi (tanpa kontak mata), mereka dapat terlibat dalam pembicaraan dan berpartisipasi dalam sekolah, kerja, dan interaksi sosial dengan baik.
Jadi, haruskah kita memaksakan kontak mata pada individu dengan ASD yang merasa tidak nyaman dengan kontak mata? Jawaban yang terbaik mungkin adalah “tergantung”. Dalam menentukan apakah kita harus mendorong kontak mata, sepertinya harus mempertimbangkan terlebih dahulu tujuan kontak mata yang sebenarnya. Apabila sudah menemukan tujuannya, kita harus merenungkan apakah kontak mata merupakan strategi yang paling baik untuk mencapai tujuan tersebut.
Dalam bidang pendidikan, pendidik seringkali meminta anak didik untuk melakukan kontak mata untuk mendapatkan atensi dari anak didik. Namun, apabila individu dengan autisme terlihat menghindari kontak mata ketika diminta, individu tersebut dapat disalahartikan sebagai tidak taat. Oleh karena itu meminta kontak mata apakah merupakan pendekatan yang bijak untuk memusatkan perhatian, akan bergantung dari individu dengan autism tersebut dan keadaan yang mengelilinginya.
Akan lebih baik apabila kita mulai melakukan eksplorasi mengenai permasalahan pada anak/individu dengan ASD mengenai pengaruh kontak mata pada mereka. Selain itu, kita juga perlu memahami apakah kontak mata dapat membantunya lebih fokus pada pembicaraan atau justru membuatnya lebih sulit untuk fokus.
Beberapa individu dengan ASD secara bertahap belajar untuk memahami ekspektasi sosial terkait kontak mata dan mengusahakan untuk melakukan kontak mata sesekali. Banyak yang dapat melakukan kontak mata dengan baik ketika kenyamanan dan keterampilan dalam situasi sosialnya meningkat. Beberapa menyatakan bahwa kemampuan mereka untuk melakukan kontak mata akan bergantung dari konteks mereka berada. Contohnya, ketika individu tersebut merasa nyaman dan kompeten, dia dapat melakukan kontak mata. Akan tetapi, ketika berada dalam situasi yang membingungkan, kompleks, memicu kecemasan, individu tersebut dapat menghindari kontak mata secara terang-terangan.
Guru-guru seringkali juga melakukan observasi pada siswa dengan ASD dan menemukan bahwa siswa-siswa tersebut terlihat tidak memperhatikan sama sekali. Akan tetapi, dia mengetahui semua yang diucapkan gurunya. Sehingga, memaksakan kontak mata dapat membuatnya merasa tidak nyaman dan sulit untuk menyimak pembelajaran. Apabila kontak mata begitu menekan bagi anak/individu dengan ASD sehingga berdampak negatif pada atensi/fokus, maka akan lebih baik untuk mencari cara-cara alternatif untuk mengindikasikan kepada orang lain bahwa ia tertarik dan sedang memperhatikan.
Menyatakan ketertarikan dalam perbincangan dengan cara nonverbal merupakan hal yang penting. Oleh karena itu, berikut ini adalah beberapa pilihan cara yang dapat digunakan untuk menyatakan ketertarikan tersebut:
- Anak/individu dengan ASD dapat menunjukkan ketertarikannya dengan menghadap lawan bicara dan tetap berada dalam jarak dekat
- Belajar menggunakan beberapa komen yang tepat secara sosial yang dapat digunakan untuk mengindikasikan bahwa ia sedang memperhatikan. Contoh: mengatakan “ya” atau “OK” atau bahkan “hmm-hmm”. Sangatlah penting untuk menyampaikan komentar-komentar pendek tersebut ketika lawan bicara berhenti sejenak – dan tidak disampaikan ketika lawan bicara berbicara
- Anak/individu dengan ASD juga dapat memberitahu “Saya memperhatikan meskipun saya tidak melihat padamu”
Pada berbagai kesempatan, kontak mata sangat membantu anak/individu dengan ASD untuk fokus. Jika demikian, mengembangkan keterampilan kontak mata dapat menjadi hal yang penting untuk kehidupan yang sukses dan mandiri. Ketika mengembangkan strategi-strategi yang ditujukan untuk fokus dan atensi pada indiivdu dengan ASD, kita harus mempertimbangkan cara individu menangkap dan memproses informasi, sehingga dapat menentukan apakah kontak mata merupakan hal yang harus ada atau justru sebaliknya.
