And they live happily ever after.”

Demikianlah biasanya tulisan dalam lembar terakhir buku cerita dongeng, biasanya tersurat ketika tokoh utama dongeng tersebut menikah. Seringkali cerita akan ditutup dengan adanya pesta pernikahan meriah yang menggambarkan sukacita ataupun sorotan kepada kedua sejoli yang berbahagia. Di situlah kisah berakhir.

Hal ini sedikit banyak sejalan dengan jawaban kebanyakan pasangan yang akan menikah. Saat ditanya mengapa ingin menikah, jawaban yang muncul umumnya adalah ingin mencari kebahagiaan. Jawaban ini memang tidak salah, tetapi tidak konkret, kurang mendalam, dan mudah goyah. Ternyata, “happy ending” dalam menikah itu bukanlah akhir dari segalanya. Faktanya, data dari Badan Pusat Statistik di tahun 2021 menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan individu yang menikah dan melajang tidak berbeda secara signifikan. Secara lebih detil, data tersebut menunjukkan bahwa individu yang sudah menikah memiliki tingkat kebahagiaan sebesar 72.10% dan yang belum menikah memiliki tingkat kebahagiaan sebesar 71.58%. Di samping itu, jumlah perceraian semakin melonjak setiap tahunnya. Merujuk data dari BPS, pada tahun 2022 angka perceraian bahkan mencapai 516.344 kasus.

Berkaca pada hal ini, adalah sangat baik jika sejak awal, bahkan sejak sebelum memasuki pernikahan, kedua belah pihak benar-benar mengambil waktu untuk menelaah makna pernikahan bagi masing-masing pasangan dan membuat suatu tujuan pernikahan bersama. Pasangan juga dapat menelaah dan mengembangkan kompatibilitas dalam relasinya, sehingga tujuan yang sudah ditetapkan dapat dicapai bersama dalam suatu kerja tim yang efektif. Diskusi yang mendalam bersama pasangan dapat membantu para pasangan yang hendak menikah untuk mengklarifikasi tujuan pernikahan dan memperdalam pengenalan mereka akan pasangan.

David Olson, seorang peneliti hubungan pernikahan dan keluarga dari University of Minnesota, mengembangkan satu konsep dasar dalam persipakan pernikahan. Ia menamakannya: PREPARE.  Dalam prinsip tersebut terdapat 10 dimensi inti yang menggambarkan kompatibilitas pasangan. Pasangan pun dapat menganalisis dan mengembangkan kompatibilitas untuk hal-hal ini sebelum memasuki pernikahan. Dimensi-dimensi tersebut di antaranya adalah:

  1. Komunikasi: apa yang dirasakan saat pasangan berkomunikasi, baik dari segi kuantitas maupun kualitas komunikasi, termasuk bagaimana pasangan berbagi perasaan, pengertian, dan saling mendengarkan.
  2. Resolusi konflik: bagaimana pasangan mendiskusikan dan menyelesaikan masalah/konflik/perselisihan yang muncul dalam relasinya. Hal ini termasuk mengungkapkan bagaimana individu secara efektif mengungkapkan pikiran dan perasaannya, bahkan pada saat konflik terjadi.
  3. Gaya relasi dan kebiasaan pasangan: bagaiman kepuasan masing-masing individu terhadap gaya relasi maupun kebiasaan pasangannya.
  4. Manajemen finansial: bagaimana pasangan setuju terhadap pengeluaran finansial maupun rencana / pengelolaan keuangan. Hal ini termasuk kebiasaan menabung, investasi, pengelolaan penghasilan, dan keputusan terkait hal-hal finansial lainnya.
  5. Seksualitas: bagaimana pasangan puas terhadap ekspresi afeksi dalam hubungan, termasuk kenyamanan berdiskusi mengenai hal seksual, ekspektasi, maupun pengalaman seksual.
  6. Aktivitas senggang (leisure): seberapa puas pasangan puas dengan waktu senggang dan kualitas rekreasi / leisure yang dilakukan bersama. Hal ini mencakup kemiripan dalam hal minat, seberapa puas dalam menjalani aktivitas bersama, maupun saat terpisah.
  7. Peran gender (peran suami/istri): bagaimana ekspektasi pasangan mengenai peran suami/istri dalam mengambil keputusan atau dalam berbagi tanggung jawab. Beberapa individu memiliki pandangan yang lebih tradisional atau mungkin lebih egalitarian (setara) dalam peran suami/istri.
  8. Kepercayaan spiritual: seberapa terlibat atau puas pasangan terhadap praktek keagamaan yang dilakukan dalam relasinya.

Pernikahan yang kuat adalah relasi yang vitalized, yang mana pasangan merupakan dua individu yang kompatibel dalam banyak area. Pasangan yang vitalized seperti ini cenderung akan lebih puas dalam pernikahannya, lebih mudah untuk mencapai tujuan pernikahan, lebih efektif dalam memecahkan masalah yang muncul, dan lebih sedikit mengalami abuse dalam hubungan pernikahan mereka. Karena itu, pengenalan pasangan dan penelaahan kompatibilitas merupakan beberapa kunci untuk memiliki pernikahan yang sukses. Dengan kata lain, semakin pasangan kompatibel, semakin mungkin mereka mengalami ”happily ever after” dalam pernikahan mereka.

Author

  • Jessica Ariela

    Jessica Ariela merupakan dosen Fakultas Psikologi di Universitas Pelita Harapan. Ia memiliki ketertarikan dalam topik attachment dan relasi dekat, edukasi, konseling, dan trauma.

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait