Katanya, generasi saya, Gen Z (lahir pada akhir 1990-an dan awal 2000-an) adalah generasi yang suka mengeluh. Kalau berkaca pada aktivitas di media sosial, khususnya Twitter, tak terhitung frekuensi teman-teman saya yang mengeluh di sana. Ada saja hal-hal yang menjadi keluhan mereka setiap saat, mulai dari masalah dengan keluarga, jalanan macet, sampai topik yang lagi trending. Meskipun mengeluh adalah hal lumrah, tetapi kebiasaan ini umumnya dipandang negatif. Maka tidak ada yang mau dicap sebagai tukang ngeluh. Jika dihadapkan pilihan, kita pasti memilih untuk terhindar dari teman atau rekan yang sering sambat. Lantas, dengan adanya nuansa negatif tentang mengeluh, mengapa hal itu sering terjadi?

Mengeluh itu merupakan sebuah bentuk ungkapan dari ketidakpuasan diri. Ini biasanya dilakukan secara lisan, misalnya mengomentari pelayanan restoran yang lama dalam menyajikan makanan. Selain itu, mengeluh biasanya terjadi dalam situasi negatif. Contoh lainnya ketika lalu lintas lebih buruk dari yang diduga, gangguan teknis transportasi umum, film layar lebar yang mengecewakan, dan lain-lain.

Dalam berkomunikasi, kata-kata yang diucapkan dapat membantu menghubungkan sesama manusia. Melampiaskan keluhan itu sendiri mampu divalidasi oleh orang lain. Seringkali ketika kita curhat kepada teman terkait buruknya layanan suatu provider internet, hal itu bisa disetujui olehnya karena pernah merasakan hal yang serupa. Dari situ muncul perasaan terkoneksi. Atau ketika ada kejadian buruk yang menimpa, misalnya pencopetan, orang lain secara alami dapat bersimpati. Pengalaman mengeluh inilah yang bisa sedikit menyenangkan hati. Ketika orang lain memahami rasa sakit yang kita rasakan serta memvalidasi pengalaman tersebut, akan terasa menyentuh dan terkoneksi untuk sesaat.

Seperti yang disampaikan sebelumnya, kadang mengeluh merupakan suatu hal lumrah. Namun, mengeluh yang terus menerus bisa menjadi perilaku toxic dan berefek negatif. Dalam konteks berteman, tidak ada yang suka berada di sekitar seseorang yang selalu menggerutu. Sebab, mereka cenderung menjadi buzzkill (merusak semangat atau kesenangan orang lain), menyebarkan negatif vibes, dan suka sekali menyalahkan. Seorang teman mungkin tidak menentang kebiasaan tersebut, tetapi mereka setidaknya akan berusaha terhindar atau meminimalisir perjumpaan dengan si tukang ngeluh.

Kebiasaan mengeluh juga sejalan dengan menurunnya energi dan kreativitas. Orang yang mengeluh sering melaporkan merasa lelah dan tidak termotivasi. Hasil riset pun menunjukkan bahwa mengeluh kronis dapat menyebabkan kerusakan otak dengan mengecilkan bagian otak yang bertugas memecahkan masalah dan berpikir kritis. Sejumlah peneliti pun melaporkan kalau keluhan tidak ditujukan untuk mengubah keadaan yang ada, tetapi sebuah pelampiasan dari rasa frustasi. Jadi, kebiasaan mengeluh merusak keinginan membuat perubahan dan menghambat pencarian solusi kreatif atas masalah yang dialami. Meskipun sulit, apalagi bagi tukang ngeluh kronis, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Lihatlah sisi baiknya. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup seperti dua sisi koin logam. Di balik sebuah keterpurukan, selalu ada hikmah yang dapat dipetik. Misalnya, ketika kedai yang kita tuju tutup, pikirkanlah ada berapa kalori yang tidak jadi kita konsumsi.

Cari alternatif yang tepat. Arahkanlah keluhan ke dalam bentuk yang bermanfaat dan tidak merugikan. Sederhananya, lakukanlah journaling dibanding terus sambat di media sosial. Rahasiamu akan tersimpan rapat dan tidak dinilai sebagai tukang ngeluh. Atau gunakanlah media penyampaian kritik dan saran apabila menemui fasilitas publik yang tidak berjalan semestinya.

Fokus pada solusi. Mengeluh tidak akan mengubah situasi. Justru malah membuat kita terjebak dalam kondisi negatif. Alihkan energi untuk mencoba menemukan solusi. Misalnya, dibandingkan terus menerus mengeluh akan tugas kuliah yang tak ada habisnya, buatlah jadwal pengerjaan yang lebih terstruktur. Kemudian, apresiasi diri sendiri jika berhasil dan konsisten dalam melakukannya.

Bersyukur itu penting. Sepertinya, banyak yang meremehkan manfaat dari bersyukur. Buatlah sebuah notes di ponsel yang isinya ungkapan syukur atau rutinlah mengucap syukur saat berdoa. Cobalah berkomitmen untuk mencatat atau menyebutkan tiga hal sederhana yang kita syukuri setiap hari selama dua/tiga minggu. Jangan lupa untuk membaca dan meresapi apa yang kita tulis secara persisten. Lalu, rasakan perbedaan perspektif dalam menyikapi kehidupan!

Author

  • Gabrielle Aipassa

    Gen Z yang kebetulan Sarjana Psikologi, makanya cocok jadi si paling mental health. Memilih menulis untuk menuangkan keresahannya terkait fenomena-fenomena sosial.

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait