Digitalisasi di Indonesia ternyata belum disertai kesiapan para pemakainya dan memunculkan fenomena sosial. Dalam laporannya, Kemenkominfo mencatat bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat 11% dari tahun sebelumnya, yaitu dari 175,4 juta menjadi 202,6 juta pengguna. Peningkatan tersebut ternyata tidak dibarengi dengan kemahiran para warganet, salah satunya adalah kurangnya literasi digital (kemampuan untuk memahami dan menggunakan berbagai bentuk informasi). Lalu, hal buruk apa yang bisa terjadi?

Baca lebih lanjut

Wanita seringkali mendapatkan perlakuan diskriminasi gender. Gender sendiri sebenarnya adalah konstruk sosial yang dibuat oleh manusia (yang tentunya dipengaruhi oleh budaya) untuk menentukan peran, kedudukan, maupun sifat dari gender yang kemudian dilekatkan kepada laki-laki maupun perempuan. Semisal, laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis, harus menjadi pemimpin. Sedangkan perempuan lebih baik mengurus anak dan rumah saja, tidak perlu mencapai pendidikan yang tinggi, dan sebagainya. Atau bahkan sejak kecil permainan pun seringkali dibatasi, laki-laki bermain bola, perempuan bermain boneka. Padahal nyatanya semua permainan bisa dimainkan oleh anak dengan gender apa pun.

Baca lebih lanjut

Dalam perjalanan hidup, setiap peristiwa yang dilewati akan mendatangkan berbagai warna emosi. Ada kalanya kita sedih, ada kalanya sedih terganti dengan senang. Kadang kita menghadapi situasi yang memalukan, tapi ada titik di mana kita berjumpa dengan rasa bangga. Terkait dengan ragam emosi tersebut, kebanyakan manusia kemudian akan mengupayakan suatu kondisi yang disebut: Bahagia. Katanya, Bahagia adalah tujuan.

Baca lebih lanjut

Manusia adalah makhluk yang berelasi dalam kehidupannya. Hal tersebut menjadi dasar beberapa teori Psikologi. William Glasser, psikiater asal Amerika Serikat, menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhannya, manusia perlu berelasi dengan orang lain, mengacu pada kebutuhan love and belongingness. Jika kebutuhan tersebut terusik, maka permasalahan yang lebih kompleks termasuk untuk memenuhi kebutuhan yang lain juga akan bermasalah. Hal senada juga dinyatakan oleh Abraham Maslow yang juga menyebutkan bahwa akar permasalahan patologi berasal dari masalah kebutuhan akan cinta dan perasaan dimiliki/kepemilikan (love and belongingness).

Baca lebih lanjut

Ketika anaknya berusia 2 tahun dan belum mengucapkan satu patah kata pun, seorang ibu sudah mulai khawatir dan bertanya-tanya dalam hatinya, “Ada apa dengan anakku? Apakah hal tersebut normal atau tidak?” Tidak banyak yang diketahui oleh sang ibu tersebut, karena pengalamannya bersama anaknya itu merupakan pengalaman pertamanya menjadi seorang ibu. Sungguh anugerah yang luar biasa baginya, tapi tidak banyak yang ia ketahui mengenai pengasuhan dan perkembangan anak, karena memang tidak dipelajari ketika ia bersekolah maupun berkuliah. Sang ibu berdiskusi dengan suami dan orang-orang di sekitar, banyak yang berpendapat bahwa ia hanya perlu menunggu hingga anaknya akan mulai berbicara pada waktunya.

Baca lebih lanjut

Gangguan depresi merupakan isu kesehatan mental yang serius di tengah masyarakat dan penanganannya masih menjadi PR besar bagi semua pihak. Penanganan gangguan depresi yang efektif bisa dimulai dari identifikasi yang tepat mengenai akar permasalahannya. Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa depresi dikaitkan dan juga disebabkan karena lemahnya iman atau kurangnya ikatan spiritualitas/religiusitas seseorang. Pada sejumlah kasus, masyarakat seringkali menuding orang mengalami depresi karena lemah iman. Padahal, depresi justru seringkali disebabkan karena lemahnya dukungan sosial. Dalam hal ini, masyarakat yang seharusnya menjadi support system secara ironis malah memberikan tudingan-tudingan negatif tertentu kepada seseorang yang mengalami gangguan depresi.

Baca lebih lanjut

Kehidupan manusia sarat akan perjumpaan yang dipenuhi dengan perayaan. Berjumpa dengan orang yang kita cintai, kelahiran buah hati, lingkungan/situasi baru yang dicari, kebebasan yang lama dinanti atau mungkin berjumpa dengan akhir pandemi. Perjumpaan membawa kelegaan, kebahagiaan, dan tentu sukacita yang menambah makna pada hidup kita sebagai manusia. Namun, untuk tiap perjumpaan yang penuh dengan perayaan, datang pula kehilangan. Kadangkala, perjumpaan dan kehilangan juga mampir bersama-sama dalam hidup kita. Misalnya, kita berjumpa dengan pekerjaan impian kita, tetapi juga kehilangan zona nyaman yang kita selama ini bersemayam.

Baca lebih lanjut

Saat ini, berdasarkan pengamatan, banyak anak-anak usia balita yang beraktivitas dengan ponsel pintarnya. Saat makan, melakukan aktivitas di ponsel pintar; Saat sedang menunggu, beraktivitas dengan ponsel pintar. Entah menonton Youtube, menonton saluran khusus anak-anak, atau games bagi anak-anak, dan sejenisnya. Apalagi didukung oleh berbagai alasan dari orang tua atau orang dewasa: “supaya anaknya tenang”, “dari pada dia nangis”, “saya kan sibuk”, “zaman now kan semua pakai ponsel pintar”, “dia pakai ponsel pintar belajar bahasa Inggris kok”, “anak lain pakai ponsel pintar masa anak saya enggak”, “sekarang kan pandemi Covid-19 materi belajar anak semua pakai laptop atau ponsel pintar”, “dia capek belajar makanya pakai ponsel pintar kan itu main juga”, dll. Lalu, apakah aktivitas dengan ponsel pintar dapat dikatakan sebagai bermain?

Baca lebih lanjut

Belakangan ini marak pemberitaan beberapa orang kaya yang dikenal sebagai crazy rich tersandung masalah hukum karena diduga terlibat dalam beberapa kasus seperti penipuan dan pencucian uang yang merugikan masyarakat. Fenomena crazy rich ini semakin menjamur dengan adanya kemudahan akses dalam bentuk saluran Youtube ataupun pemberitaan mengenai perilaku segelintir orang yang mendadak kaya ini.

Baca lebih lanjut