Hubungan dengan Pasangan Bahagia tapi Berselingkuh: Kenapa?

Relasi romantis (baik pernikahan maupun pacaran) umumnya disertai dengan komitmen untuk setia terhadap satu sama lain. Perselingkuhan terjadi ketika janji atau komitmen untuk setia terhadap pasangan tersebut dilanggar atau dipatahkan, yang menyebabkan pihak yang dikhianati merasa terluka, sakit hati, bingung, dan marah.  Berbeda dengan pihak yang diselingkuhi, pihak yang berselingkuh dapat saja merasa bahwa perselingkuhan menggiurkan, seru, memberikan kebaharuan, merasa muda, dan sukacita.

Banyak perselingkuhan terjadi dalam relasi yang bermasalah, seperti adanya konflik berkepanjangan ataupun konflik mengenai hal-hal yang mendasar bagi satu sama lain. Akan tetapi, perselingkuhan juga bisa terjadi ketika pasangan dengan berada dalam relasi yang bahagia. Mengapa bisa demikian? Dirangkum dari buku “The State of Affairs: Rethinking Infidelity” karya Ester Perel, terdapat 4 alasan mengapa individu berselingkuh meskipun berada dalam relasi yang bahagia:

  1. Mencari diri yang baru

Perselingkuhan dapat saja terjadi bukan karena mencari orang atau pasangan yang baru, melainkan mencari jati diri yang baru (versi diri yang berbeda). Bayangan seseorang mengenai perselingkuhan seringkali merupakan bayangan yang paling ideal karena tidak adanya tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Bagi beberapa orang, perselingkuhan dapat menjadi dunia yang penuh kemungkinan, realita alternatif di mana kita dapat membayangkan kembali dan menemukan kembali diri yang baru. Khususnya jika dibandingkan dengan tekanan sehari-hari dalam kehidupan pernikahan dan keluarga. Ketidakpastian yang ada dalam hubungan perselingkuhan (seperti tidak tahu kapan akan bertemu kembali, tidak dapat memiliki satu sama lain) lah yang membuat keinginan untuk bertemu terus menerus, untuk terus menginginkan lebih dari hubungan perselingkuhan tersebut.

Perselingkuhan dapat saja terjadi dengan orang yang berasal dari kelas, budaya, ataupun generasi yang sangat berbeda, seseorang yang tidak bisa menjadi pasangan hidup yang sesungguhnya. Perselingkuhan memberikan “hidup yang tidak pernah bisa dimiliki”, juga memberikan hidup yang penuh dengan kemungkinan.

  1. Natur pelanggaran yang menggiurkan

Individu yang berselingkuh sudah mengetahui bahwa ia sedang mempertaruhkan relasi yang dimiliki, tetapi justru karena itulah pelanggaran dapat menjadi sangat menggiurkan karena mempertaruhkan hal-hal yang paling berharga bagi kita. Konsekuensi dari perselingkuhan dapat menjadi transformatif ataupun destruktif, dan terkadang keduanya.

Orang yang berselingkuh seringkali berada dalam situasi yang kontradiktif: kecewa dengan perilakunya sendiri, terpesona dengan sikap berani dirinya sendiri, tersiksa karena takut diketahui, dan tidak dapat (atau tidak mau) mengakhiri hubungan dengan selingkuhannya.

Pelanggaran yang kita lakukan, seperti yang kita ingat dari masa kanak-kanak, ada sensasi yang menegangkan ketika bersembunyi, mengendap-endap, menjadi nakal, takut ketahuan, meloloskan diri. Risiko tertangkap karena melakukan sesuatu yang kotor atau nakal, melakukan hal yang tabu, melewati batas yang ada, semua ini adalah pengalaman yang menggairahkan.

  1. Daya tarik kehidupan yang tidak dijalani

Perselingkuhan dapat terjadi meskipun berada dalam relasi yang bahagia karena ada orang yang tenggelam dalam memori mengenai diri mereka yang dulu. Ada juga yang memikirkan mengenai kesempatan yang terlewat di masa lalu. Selalu ada kecurigaan bahwa hidup yang dijalani saat ini adalah suatu kesalahan, bahwa ada sesuatu yang sangat penting tapi terlewatkan, terabaikan, tidak dicoba ataupun tidak dieksplorasi. Mungkin saja melewatkan kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan yang sangat berbeda dari kebahagiaan yang pernah dialami sebelumnya.

Ketika seseorang memilih pasangan, maka akan ada komitmen dalam hubungan tersebut. Akan tetapi, ada kemungkinan untuk tetap merasa penasaran: Bagaimana kehidupan yang berbeda yang bisa terjadi kalau memilih orang lain? Perselingkuhan menawarkan jendela untuk mengalami alternatif kehidupan tersebut. Perselingkuhan seringkali merupakan kemungkinan yang tidak terjadi.

Dunia digital menawarkan kesempatan yang belum pernah ada sebelumnya, kesempatan untuk membangun koneksi dengan orang-orang yang telah keluar dari kehidupan kita. Kita memiliki akses terhadap mantan-mantan kita dan dapat memenuhi keingin tahuan kita: “Apa yang terjadi dengan si Mantan? Aku penasaran apakah dia sudah menikah sekarang? Aku dengar relasinya dengan pasangan tidak baik? Apakah dia masih tetap secantik yang dulu?” Jawabannya ada di dunia digital dan dapat dengan cepat ditemukan. Perselingkuhan dengan mantan menjadi bertambah banyak terjadi karena pengaruh dari sosial media.

  1. Munculnya kembali emosi-emosi yang sebelumnya dipendam

Orang yang berselingkuh mungkin saja merasa gembira karena dapat merasakan emosi-emosi yang baru ataupun emosi-emosi yang sudah dipendamnya. Hal ini didapatkannya ketika ia melakukan eksplorasi terhadap dirinya dan menemukan dirinya kembali. Ada banyak laki-laki yang hidup dengan menunjukkan dirinya yang kuat, sehingga hanya menampilkan dirinya yang tidak takut akan apapun dan selalu memiliki kendali atas segala sesuatunya. Mereka memendam perasaan karena laki-laki harus selalu terlihat kuat, hal itu lah yang diberitahukan orang-orang di sekelilingnya sedari kecil. Untuk orang-orang ini, perselingkuhan seringkali lebih merupakan sarana untuk melepaskan emosi-emosi yang sebelumnya dipendam.

Itulah sejumlah alasan mengapa tetap ada perselingkuhan di tengah tali pernikahan yang (dianggap) bahagia. Bagi sejumlah orang, sensasi-sensasi yang dimunculkan dalam sebuah “hubungan gelap” merupakan stimulus yang menantang dan menggairahkan. Apapun itu kenikmatan yang dihasilkan, akan selalu ada pihak yang menjadi korban dalam proses perjalanan perselingkuhan.

Author

  • Yuliana Anggreany

    Yuliana Anggreany mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan, serta menjadi psikolog di Pusat Tumbuh Kembang & Sekolah Khusus Bougenville.

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait