Keluarga Cemara yang terdiri dari Abah, Emak, Euis, Cemara/Ara dan Ragil telah menetap sekian tahun di desa mengalami berbagai tantangan baru. Abah mendapatkan pekerjaan baru di peternakan ayam sehingga mengharuskannya lebih banyak di luar rumah dan belum bisa menepati janji untuk memperbaiki kamar baru Ara. Euis yang beranjak remaja juga memiliki kesibukan di luar rumah sehingga tidak bisa menjemput Ara pulang sekolah—seperti yang dijanjikan sebelumnya. Emak, berusaha untuk mengembangkan bisnis sampingan opak sehingga kurang memperhatikan perkembangan anak-anaknya kecuali Ragil yang masih balita. Intinya, keluarga ini memiliki banyak sekali kesibukan sehingga kurang bisa meluangkan waktu dengan anggota keluarga yang lain. Sounds familiar?
Jika penulis boleh jujur, fenomena ini lazim sekali ditemui di berbagai kota besar (mungkin juga sudah menjalar ke desa). Kekurangan waktu dengan anggota keluarga yang lain menjadi masalah klasik dalam keseharian. Kesibukan belajar, bekerja, membereskan urusan rumah, atau kegiatan lain di luar rumah membuat rumah seperti penginapan sementara dan berdampak pada minimnya interaksi dengan anggota keluarga. Akhir pekan sebagai waktu libur setelah beraktivitas di hari kerja juga lebih sering menjadi hari istirahat karena sudah terlalu lelah dengan urusan pekerjaan atau pembelajaran, sehingga tidak menjadi waktu yang tersedia untuk keluarga.
Minimnya waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga dapat membawa dampak negatif. Pertama, memburuknya hubungan antar anggota keluarga, membuat anak lebih mempercayai sumber lain di luar orang tua untuk mendapatkan pengetahuan atau sebagai orang kepercayaan. Kedua, masalah emosional yang timbul pada anak dan berlanjut pada masa dewasa karena merasa dirinya tidak dikasihi, merasa bukan orang yang penting, sehingga memunculkan perasaan insecure dan tidak berharga. Ketiga, penurunan nilai akademik. Kondisi emosional anak erat kaitannya dengan nilai akademik. Tidak hadirnya orang tua yang terlibat dalam menyelesaikan tugas akademik secara tidak langsung memicu penurunan prestasi belajar. Keempat, anak yang merasa kesepian karena kurangnya waktu bersama keluarga juga memunculkan penggunaan media sosial yang berlebihan dan memiliki ketergantungan.
Mengantisipasi dampak negatif tersebut, apa yang bisa dilakukan untuk bisa memiliki waktu bersama keluarga? Robin McClure memberikan beberapa tips yang bisa dicoba, sebagai berikut :
- Menentukan waktu untuk keluarga yang bersifat rutin. Misalnya, setiap Sabtu sore dijadwalkan untuk menonton bersama atau Minggu pagi sebagai waktu olaharaga bersama. Menentukan satu waktu makan bersama juga akan menciptakan waktu berkualitas, misalnya makan malam sebagai waktu berkumpul dan berbagi mengenai kegiatan harian.
- Mempertimbangkan komitmen waktu. Urusan arisan, kegiatan amal atau kegiatan lain di luar rumah akan menghabiskan banyak waktu yang awalnya dialokasikan untuk keluarga. Untuk itu, bijaklah memilih kegiatan yang akan diikuti.
- Berbagi pekerjaan rumah tangga. Mengerjakan urusan rumah tangga bersama-sama bisa menjadi sarana untuk berinteraksi dan menghabiskan waktu bersama.
- Rencanakan liburan bersama atau adanya hari tanpa gangguan. Setelah semua kegiatan di hari kerja yang membuat stress, satu hari luang bisa digunakan untuk membuat koneksi kembali dengan semua anggota keluarga.
- Membantu pekerjaan rumah. Orang tua bisa menemani anak untuk mendapatkan sumber yang reliabel untuk tugas atau mengerjakan PR. Di film keluarga Cemara 2, Abah dan Euis yang menemani Ara untuk membantu misi mengembalikan ayam peliharaan membuat Ara merasa tidak sendiri dan terbantu.
- Membuat proyek bersama. Jika orang tua dan anak memiliki hobi yang sama, misalnya berkebun, maka proyek bersama ini akan membantu menciptakan waktu berkualitas.
- Memprioritaskan keluarga melebihi kewajiban pekerjaan merupakan salah satu elemen penting untuk menciptakan waktu bersama keluarga.
No amount of money or success can take the place of time spent with your family.
-unknown
