Beberapa dari kita seringkali bertanya-tanya “Apa yang akan terjadi kalau kita mengambil keputusan yang berbeda dalam hidup?”. Wujud pertanyaannya bisa diajukan dalam berbagai konteks, seperti pekerjaan “Bagaimana ya kalau dulu lebih memilih masuk ke perusahaan A dibandingkan tempat kerja sekarang?” Mungkin juga dalam hubungan asmara “Bagaimana ya jika dulu bertahan dengan mantan pacar dan tidak putus?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kita mengingat kembali hal-hal yang sudah dilalui. Seringkali juga diikuti dengan membuat skenario dari pilihan lain yang tidak kita ambil saat itu, atau disebut juga skenario “what if”. “What if” menjadi tanda bahwa ada hal yang kita bandingkan dari masa sekarang dengan kemungkinan lain di masa lalu yang tidak kita pilih.

Dalam melakukan proses berpikir dan mengingat masa lalu tersebut, ada emosi yang seringkali muncul, yaitu regret atau rasa menyesal. Menyesal adalah salah satu emosi yang bisa muncul dalam diri kita dan fokusnya terhadap apa yang terjadi di masa lalu dan tidak dapat diubah. Rasa menyesal disebut sebagai “backward-looking emotion” karena memunculkan kecenderungan seseorang untuk berpikir secara kontrafaktual mengenai apa yang bisa terjadi jika ia mengambil pilihan atau keputusan yang lain.

Rasa menyesal ini dianggap sebagai emosi yang turut mengikuti dari munculnya emosi lain. Misalnya, kita sedang dalam kondisi putus dari hubungan romantis, kemudian muncul emosi sedih yang membangkitkan ingatan ketika bersama dengan orang tersebut. Emosi sedih ini kemudian mendorong munculnya rasa menyesal. seperti “Mengapa dulu tidak mencoba lebih mendengarkan dan perhatian?” atau “Andai dulu kami saling menahan ego agar bisa mempertahankan hubungan ini dengan baik”. Proses ini yang menjadikan rasa menyesal sebagai emosi yang kompleks dan menarik karena melibatkan perasaan serta proses berpikir untuk bisa memunculkannya.

Lalu, apakah emosi berupa penyesalan selalu punya dampak yang tidak baik? Jawabannya adalah tergantung sejauh mana emosi penyesalan tersebut muncul dan bagaimana pengaruhnya terhadap diri kita.

Untuk itu, kita bisa lihat rasa menyesal ini ke dalam beberapa poin penting:

  1. Rasa menyesal biasanya hadir dari proses perenungan. Ini dapat berdampak buruk, baik terhadap fisik maupun mental, ketika perenungan tersebut tidak memiliki hasil dan justru menjadikan kita melakukan self-blame atau menyalahkan diri sendiri.
  2. Melihat ke masa lalu memang tidak selalu baik, tetapi penilaian kita akan masa lalu bisa memiliki peran sebagai pembelajaran dan pengalaman untuk memperbaiki diri. Hal inilah yang mendasari pentingnya melakukan refleksi diri, dimana kita akan belajar dari pengalaman di masa lalu dengan mengingat apa saja yang menjadi fokus masalah saat itu dan mulai memperbaiki diri.
  3. Rasa menyesal bisa membangkitkan motivasi untuk hidup dengan kesadaran penuh akan masa kini. Dalam hal ini, kita sadar bahwa ada hal yang sudah terjadi di masa lalu dan tidak bisa kita ubah. Melalui pemikiran bahwa fokus utama kita adalah menjalani masa sekarang dengan lebih baik, maka kita akan menjadikan masa lalu sebagai perjalanan kita untuk bisa sampai sekarang.
  4. Mungkin memang ada hari-hari yang membuat kita merasa perlu sejenak ‘menengok’ ke belakang, tetapi bukan untuk kembali terjebak dalam masa lalu, melainkan untuk membuat kita bersyukur atas hidup yang sekarang.

Pada akhirnya, akan selalu ada keputusan-keputusan yang tidak kita pilih dan bisa memunculkan rasa menyesal. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa bertanggung jawab dengan keputusan-keputusan yang sudah kita ambil dalam hidup.

Author

Bagikan artikel ini

Artikel terkait