Salah satu restoran yang baru dibuka di Jakarta mendapatkan perhatian karena makanan yang terkenal enak dan tempat tersebut memiliki spot yang instagrammable. Antrean pengunjung mengular menjelang restoran dibuka sudah menjadi pemandangan yang wajar. Hal tersebut juga mungkin sering ditemui ketika salah satu brand gawai terkenal memperkenalkan produk terbarunya. Akan ada banyak orang yang mengantre di malam sebelumnya bahkan bersedia untuk bermalam/mendirikan kemah di depan toko. Bagi sebagian orang, perilaku tersebut dikategorikan sebagai “kiasu“.
Kiasu berasal dari bahasa atau dialek Hokkian yaitu “kia” yang artinya takut dan “su” yang artinya kalah atau mati. Secara singkat, kiasu merujuk pada orang yang tidak mau kalah, tidak mau ketinggalan, selalu berusaha menang dengan segala cara, hingga kurang memikirkan dampaknya terhadap orang lain. Padanan kata untuk kiasu adalah overcompetitive. Selain itu, orang kiasu punya kecenderungan menganggap dirinya lebih baik dan menganggap rendah karya orang lain. Singkatnya, orang yang kiasu akan terlihat sebagai orang yang takut kalah, terlihat egois dan dipandang negatif oleh orang lain.
Salah satu tokoh dalam Psikologi Kepribadian, Alfred Adler, mengutarakan bahwa manusia lahir dengan defisiensi berupa kelemahan fisik yang memunculkan perasaan inferior. Perasaan rendah diri tersebut tersebut memotivasi seseorang untuk melakukan pilihan yaitu striving for superiority atau striving for success. Hal yang membedakan kedua hal tersebut adalah tujuannya. Striving for superiority atau berjuang untuk keunggulan diri sendiri menjadikan diri lebih baik dan lebih superior dibanding orang lain. Sedangkan, striving for success atau berjuang untuk sukses, berorientasi pada pengembangan orang lain. Pendek kata, berjuang untuk sesuatu yang unggul menitikberatkan pada diri pribadi, sedangkan berjuang untuk sukses berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Lalu apakah hal tersebut sebagai suatu yang negatif atau kurang baik? Orang-orang yang menganut kiasu cenderung menitikberatkan pada diri sendiri, keuntungan pribadi yang harus didapat, bahkan jika perlu mengalahkan orang lain yang dianggapnya sebagai saingan. Namun, kompetisi dengan orang bisa menjadikan seseorang lebih bersemangat dan terpacu. Pada kenyataannya, beberapa orang atau budaya tertentu menggunakan paham ini sebagai cara untuk membuat diri lebih maju, meningkatkan motivasi berkompetisi dan bertujuan untuk lebih unggul dibandingkan orang lain.
Kiasu akan menjadi masalah ketika keinginan untuk unggul tersebut menghalalkan segala cara yang berujung pada merugikan orang lain, misalnya, karena ingin menjadi yang pertama membeli gawai terbaru dan ternama tersebut, lalu orang tersebut berkemah di depan toko dan menghambat lalu lintas di sekitar toko tersebut. Kembali pada pertanyaan semula, jadi apakah kiasu merupakan usaha untuk keunggulan pribadi yang kebablasan? Jawaban dikembalikan kepada masing-masing dari kita.
I am in competition with no one
I run my own race
I have no desire to play the game of being better than anyone, in any way, shape or form
I just aim to improve, to be better than I was before
That’s me and I’m free-unknown
