school connectednes

Masuk Sekolah Lagi, Membangun School Connectedness

Setelah lebih dari 2 tahun siswa harus bersekolah dari rumah, akhirnya siswa-siwa bisa masuk ke sekolah dan belajar di sekolah. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini siswa diharapkan untuk tatap muka 100%, tentunya dengan protokol kesehatan (prokes) yang sudah ditetapkan untuk tetap menjaga kesehatan siswa, guru dan semua petugas di sekolah. Berbagai reaksi muncul baik dari guru, siswa, maupun orang tua siswa. Orang tua pun memiliki perasaan yang bercampur aduk.

Ada perasaan senang karena anak akan bertemu dengan teman dan guru secara langsung sehingga kemampuan sosial anak dapat terus berkembang. Orang tua juga ada yang merasa senang karena anak dapat lebih fokus mengikuti pembelajaran dibanding ketika belajar dengan menatap layar. Akan tetapi, ada juga perasaan cemas karena mempertimbangkan resiko terkena virus Covid 19, terlebih ketika di rumah masih ada anak lebih kecil yang belum dapat diberikan vaksin.

Ada juga orang tua yang kebingungan dengan persiapan untuk anaknya masuk sekolah, seperti transportasi untuk anak pergi dan pulang sekolah, terlebih ketika ayah dan bunda bekerja setiap harinya, siapakah yang akan mengantar dan menjemput anak pulang sekolah. Tidak hanya itu. Berbagai perencanaan dan penyesuaian perlu dilakukan, membangun kebiasaan bangun pagi, orang tua perlu mempersiapkan bekal, anak perlu mempersiapkan bahan-bahan pelajaran untuk dibawa ke sekolah, dan lain-lain.

Akan tetapi, ketika anak sudah pulang sekolah dan merasa gembira dapat bertemu dan berkomunikasi dengan teman dan guru secara langsung, kembali masuk ke sekolah dirasa memang keputusan yang sangat tepat. Bertemu langsung baik dengan teman sekolah, guru, maupun petugas sekolah lainnya dapat membangun school connectedness. School connectedness adalah kepercayaan yang dimiliki oleh siswa bahwa orang dewasa dan teman mereka peduli akan pembelajaran mereka dan juga akan diri mereka secara individu.

Sejumlah peneliti menyatakan bahwa anak-anak yang memiliki school connectedness dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental, mereka juga cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik, mendapat nilai yang lebih tinggi, hadir di sekolah lebih sering. Selain itu, riset juga menunjukkan bahwa school connectedness dapat mengurangi resiko kecemasan dan depresi, mengurangi pemikiran dan perilaku bunuh diri. Oleh karena itu, ketika anak masuk sekolah lagi dan bertemu langsung dengan teman, guru, serta petugas sekolah lainnya, ia dapat merasa diperhatikan baik dalam hal pelajaran maupun terhadap dirinya sendiri sebagai individu. Sehingga school connectedness yang dimiliki anak dapat menjadi faktor pelindung bagi anak, terutama di masa-masa sulit dalam hidupnya.

Tentunya tidak menutup kemungkinan, ada juga anak yang mungkin saja mendapatkan pengalaman buruk (sebaliknya), merasa tidak diacuhkan oleh teman ataupun para petugas sekolah, termasuk guru. Akan lebih baik jika ayah dan bunda tetap mengikuti perkembangan pengalaman belajar buah hati di sekolah, terutama di masa-masa penyesuaian ini. Ketika anak memiliki masalah dalam menyesuaikan diri dengan teman atupun guru, bantu anak untuk menemukan solusinya. Orang tua juga dapat bekerjasama dengan sekolah untuk dapat membantu anak menyesuaikan diri dan memiliki school connectedness.

Author

  • Yuliana Anggreany

    Yuliana Anggreany mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan, serta menjadi psikolog di Pusat Tumbuh Kembang & Sekolah Khusus Bougenville.

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait