Saat sedang scrolling artikel di media sosial, penulis menemukan pertanyaan ini: “Apakah Anda lebih memilih membesarkan anak yang bahagia (happy child) atau anak yang resilien (resilient child)?” Sejenak penulis berpikir, tentu saja baiknya anak yang bahagia dan resilien. Namun, seringkali pola asuh orang tua cenderung jatuh ke salah satu di antaranya. Jika ingin anak bahagia, manjakan agar ia senang; jika ingin anak resilien, didiklah dengan keras agar ketika ia menghadapi kesulitan dalam hidup ia sudah terlatih. Namun, apakah betul demikian? Apakah ada cara membesarkan anak sehingga ia menjadi anak yang bahagia dan sekaligus resilien?
Kedua pola asuh di atas dapat dijelaskan sebagai gaya pola asuh permisif dan pola asuh otoriter. Diana Baumrind, seorang psikolog klinis yang mengembangkan teori tentang gaya pola asuh orang tua, menjelaskan bahwa pola asuh permisif adalah gaya pola asuh yang sangat hangat, tetapi orang tua sedikit sekali mengontrol atau hampir tidak memberikan ekspektasi pada anak. Biasanya orang tua dengan gaya pola asuh permisif akan membiarkan anak mengeksplorasi dan mengekspresikan dirinya dengan bebas. Namun, anak-anak dari pola asuh permisif ini akan cenderung kurang matang saat usia prasekolah. Di sisi yang berseberangan, gaya pola asuh otoriter cenderung akan mengekang anak, mengharapkan anak patuh dengan aturan, memberi hukuman, dan kurang hangat terhadap anak. Akibatnya, anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang menarik diri dan sulit untuk percaya pada orang lain.
Apakah pilihannya hanya dua gaya pola asuh ini? Tentu tidak. Ada gaya pola asuh lain yang dinamakan dengan gaya pola asuh otoritatif, yang dianggap sebagai “golden standard” dari pola asuh. Pada pola asuh ini, orang tua menunjukkan kehangatan tetapi tetap memiliki eskpektasi agar anak berperilaku dengan baik. Konsekuensi tetap diberikan, tetapi diberikan dalam relasi yang penuh kasih. Dengan demikian, anak tumbuh dengan rasa aman, tetapi mampu mengontrol perilakunya dan memiliki regulasi diri yang baik.
Perasaan aman yang anak miliki melalui relasi yang hangat dan terprediksi dari orang tuanya akan membuat anak mampu untuk menjadi pribadi yang bahagia karena ia memiliki home base yang aman atau dalam teori attachment seringkali dijelaskan sebagai safe haven. Perlu ditekankan bahwa agar anak merasa aman, bukan hanya kehangatan yang ia butuhkan, tetapi juga reliabilitas. Dengan kata lain, anak tahu ada sosok yang dapat ia andalkan, yang seringkali terbentuk lewat aturan maupun standar perilaku yang konsisten dan terprediksi dari orang tua.
Safe haven inilah yang akan menjadi modal utama bagi anak untuk bereksplorasi dan berkembang, serta mempelajari regulasi diri yang bermanfaat dalam membentuk pribadi yang bahagia dan resilien. Ibaratnya, jika anak hanya mendapatkan kehangatan dari orang tua, tetapi reaksi orang tua tidak konsisten akan suatu standar perilaku, ia akan menjadi ragu dalam bereksplorasi. Sama halnya dengan itu, jika anak dibesarkan untuk patuh pada semua aturan tetapi tidak ada relasi hangat dengan orang tua, maka anak tumbuh untuk menjalani aturan dan perintah tetapi kurang inisiatif untuk mencoba hal yang baru. Intinya, anak tidak menemukan perasaan aman dari kedua skenario ini.
Jadi, menjawab pertanyaan di awal, apakah mungkin membesarkan anak yang bahagia sekaligus resilien? Jawabannya, mungkin saja, jika anak mendapatkan rasa aman melalui pengasuhan yang hangat tetapi juga konsisten.
