Our Mother’s Land: Penjagaan Hutan oleh Kaum Perempuan

Our mother’s land merupakan film dokumenter yang kental dengan makna pentingnya menjaga lingkungan. Film ini merupakan karya jurnalis senior Febriana Firdaus yang digandeng oleh rumah produksi The Gecko dan Mongabay serta disutradarai oleh Leo Plunkett. Film yang tayang perdana di YouTube pada November 2021 ini menceritakan beberapa kisah tentang perempuan-perempuan hebat nan kuat yang memperjuangkan hak lingkungan yang dirampas oleh korporat besar seperti perusahaan semen raksasa milik negara–sebuah perampasan yang berpotensi fatal bagi lingkungan hidup, yakni kerusakan ekosistem dan krisis sumber daya alam.

Film ini merupakan kisah yang diangkat dari kejadian nyata di daerah di pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Di salah satu scene-nya ditampilkan gambaran rakyat kecil yang begitu tidak berdaya melawan penguasa yang diwakilkan oleh aparat. Seorang ibu juga terlihat tengah mempertahankan barangnya yang diambil paksa dan dipukuli oleh aparat polisi bertubuh besar hingga sang ibu jatuh tersungkur tak berdaya.

Awal film ini menggambarkan sembilan perempuan tangguh yang memperjuangkan hutan dan tanah yang dirampas korporat besar hingga akhirnya mereka dijuluki Sembilan Kartini Kendeng. Dalam perjuangannya, Sembilan Kartini dihadapkan pada kenyataan pahit dimana salah seorang dari mereka yang bernama Yu Patmi harus meregang nyawa di tengah aksi lingkungannya dengan cara mengecor kakinya dengan semen saat di depan Monas (Jakarta). Walau gugur, semangat Yu Patmi selamanya bersemayam dalam perjuangan petani Kendeng.

Cerita pada film Our mother’s land pun berlanjut ke beberapa tempat penjuru di Indonesia dengan masyarakat yang mengalami nasib serupa dengan Yu Patmi. Febriana Firdaus, sang jurnalis melanjutkan perjalanannya ke Nusa Tenggara Timur untuk bertemu dengan anak kepala suku adat bernama Aleta Baun yang menjelaskan bahwa alam harus dijaga dan dilestarikan. Bagi Aleta, alam adalah tempat belajar yang utama bagi setiap insan manusia.

Lewat film ini penonton juga dapat memahami hubungan antara place attachment dan pro-environmental behavior. Menurut sebuah riset yang dilakukan di Beijing, RRT, individu yang merasa lekat dengan suatu ruang, cenderung lebih gigih dalam menjaga kelestarian ruang tersebut dibandingkan mereka yang sama sekali tidak merasakan kelekatan ruang serula. Pada film ini, terlihat sangat jelas bagaimana para penduduk setempat mempertahankan kelestarian hutan karena kelekatan mereka dengan hutan yang telah menjelma menjadi ruang untuk mereka tumbuh, tinggal, dan hidup. Bagi mereka, hutan adalah ruang yang menyatu dengan nafas mereka, dan oleh karenanya mereka rela berkorban demi ruang yang telah mencukupi kebutuhan udara mereka.

Pada bagian akhir film, sang sutradara menampilkan perempuan muda asal Aceh bernama Farwiza Farhan yang terkenal dengan gebrakannya melawan pengerusakan hutan di Taman Nasional Leuser. Perlawanannya menghalau para perusak hutan lindung di Aceh turut menyita perhatian media internasional. Konsep the tragedy of the commons  pun tercermin dalam sebuah narasi Farwiza: “Kalau kita keruk gunung sekarang, kita tebang hutan sekarang, dampaknya dalam waktu singkat kita akan punya banyak uang, tapi krisis air”. Konsep yang digagas oleh Garrett Hardin pada tahun 1968 tersebut menunjukkan suatu situasi dimana sumber daya yang dimiliki bersama (the commons) seperti sumber daya alam dikeruk oleh individu demi keuntungan pribadinya, sehingga sumber daya tersebut habis terkuras dan tak menyisakan suatu apapun lagi bagi banyak orang. Eduardo Araral, seorang profesor di bidang kebijakan kebijakan publik dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singpura, dalam artikelnya mengungkapkan bahwa tragedy of the commons dapat dihindari dengan adanya pengelolaan kolektif atas sumber daya bersama.

Film dokumenter ini dipenuhi oleh pemandangan alam yang menakjubkan dan digenapi dengan lantunan suara alam yang mempertegas gambaran rasa kehilangan sekaligus kegigihan para pejuang lingkungan. Pada akhirnya, alam amatlah penting untuk dijaga bersama demi kesejahteraan seluruh anak manusia. Film ini direkomendasikan bagi semua kalangan yang percaya bahwa ‘ibu bumi’ tengah dirusak dan ingin bergerak untuk mempertahankan kelestariannya. Film ini juga sangat layak ditonton oleh mereka yang ingin menyaksikan kegigihan kaum ibu dalam memperjuangkan hak-hak ‘ibu bumi’.

 

Artikel ini merupakan ringkasan sekaligus tinjauan dari film Our Mother’s Land yang disutradarai oleh Leo Plunkett dan diproduksi oleh The Gecko Project dan Mongabay

Authors

Bagikan artikel ini

Artikel terkait