Dalam dunia ini, kita memiliki hal yang dianggap penting atau berharga. Buat sebagian besar orang, hal tersebut bisa berupa kekayaan, kekuasaan, atau popularitas. Bagi sebagian yang lain, hal yang utama dalam hidup adalah hubungan yang harmonis dan dikasihi oleh orang terdekat. Bagi istri, rasa sayang suami menjadi hal yang paling penting dalam hidupnya. Bagi anak, rasa sayang orang tua menjadi hal yang penting. Lalu, sebagai orang tua, apa hal yang penting bagi kita?
Sebagai orang tua, tentu saja kita mengharapkan hal yang positif dan baik terjadi dalam hidup kita dan anak-anak kita. Namun, jika hal yang tidak baik terjadi, bagaimana kita akan menyikapi hal tersebut? Kalau anak tidak mendapatkan prestasi yang baik, apakah orang tua masih akan mengasihinya? Jika anak terjerumus dalam pergaulan berisiko, apakah rasa sayang orang tua masih akan sama? Jika hasil tes kemampuan anak jauh di bawah ekspektasi orang tua, apakah anak akan dikucilkan?
Carl Rogers memperkenalkan konsep unconditional positive regard atau penerimaan tidak bersyarat; istilah yang biasa digunakan dalam sesi konseling. Penerimaan tanpa syarat berarti menerima seseorang dengan semua kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Hal ini berlawanan dengan conditions of worth, atau sebuah kondisi dan persyaratan tertentu yang membuat kita dikasihi. Contohnya, rasa sayang pada anak akan diberikan jika ia menuruti semua keinginan kita. Contoh lainnya, anak akan dikasihi jika nilai akademiknya membuat orang tua bangga.
Lalu apa gunanya orang tua memberikan penerimaan tanpa syarat pada anak? Ternyata penerimaan tanpa syarat ini bisa dipersepsikan sebagai positive regard atau penghargaan yang diterima, perasaan dikasihi dan approval dari orang lain, terutama orang tua untuk anak. Positive regard ini akan membantu pengembangan diri dan kepribadiannya. Jika anak tidak memiliki positive regard yang cukup, ia akan frustrasi dan akan menghambat pengembangan kepribadiannya. Sebaliknya, saat individu memiliki positive regard yang cukup alias informasi bahwa ia dikasihi oleh orang terdekat, itu akan membantunya untuk mengembangkan positive self regard atau kemampuan untuk mencintai diri sendiri. Kemampuan ini akan berujung pada penerimaan diri dengan lebih utuh.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa penerimaan tanpa syarat yang diberikan oleh orang tua akan menghasilkan dampak yang positif pada anak, dan membantu anak bertumbuh untuk mencintai diri sendiri. Hal tersebut juga terjadi dalam ruang konseling. Konselor yang memberikan penerimaan tanpa syarat akan membantu proses terapeutik yang dijalani klien.
Sebagai penutup, kembali pada pertanyaan awal: jadi apa yang paling penting bagi orang tua? Kondisi tertentu pada anak kah? Atau kesehatan fisik dan mental anak? Atau prestasi yang membanggakan? Jika yang terjadi sebaliknya, apakah kita sebagai orang tua mampu memberikan penerimaan tanpa syarat kepada anak-anak kita? Hanya diri kita masing-masing yang bisa menjawabnya.
“The greatest gift that you can give to others is the gift of unconditional love and acceptance”.
-Brian Tracy
