Jauh Wangi Bunga, Dekat Bau Busuk: Kelola Ekspektasi dalam Relasi

Relasi dengan orang lain tidak selalu mudah, karena di dalamnya ada ekspektasi yang dimiliki masing-masing pihak. Semakin kita kenal dekat dengan seseorang, semakin kita rentan terhadap kekecewaan saat ekspektasi tidak terpenuhi. Contohnya, hubungan antara orang tua dan anak, yang tidak jarang diwarnai konflik ketika berada dalam satu rumah lantaran kedekatan emosional yang mereka miliki. Bandingkan dengan relasi antara satu orang dengan orang asing yang terlihat baik-baik saja. Hal tersebut seperti pepatah: jika (hubungan) dekat maka akan terasa bau, sedangkan saat berjauhan lebih terasa wangi. Apa maksudnya?

Istilah dekat yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kedekatan emosional, walaupun bisa diartikan juga sebagai jarak fisik (proximity). Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Dalam suatu relasi yang dekat secara emosional, biasanya masing-masing pihak sudah merasa nyaman dengan pihak lain, sehingga cenderung menjadi diri masing-masing termasuk dengan mengeluarkan semua kekurangannya. Terkadang kenyamanan untuk menjadi diri sendiri, termasuk mengeluarkan sisi negatif, tidak sesuai dengan ekspektasi pihak lain. Hal ini berlaku dalam relasi pasangan, orang tua-anak, hingga teman dekat.

Ekspektasi adalah perasaan atau harapan bahwa sesuatu seharusnya terjadi, dan menjadi salah satu faktor penting yang turut memengaruhi keberhasilan dan kepuasan dalam sebuah relasi. Contohnya, dalam sebuah hubungan pertemanan yang ideal, kita memiliki ekspektasi bahwa setiap pihak yang terlibat di dalamnya haruslah menunjukan upaya timbal balik dalam merespon informasi pihak lain. Pada kenyataannya, tidak menutup kemungkinan hanya satu pihak yang terus menerus memberikan informasi, sedangkan pihak yang diajak bicara cenderung tidak menanggapi atau terlambat memberikan respon.  Hubungannya menjadi tidak seimbang, atau tidak sesuai dengan ekspektasi dari salah satu pihak yang terlibat. Bisa disimpulkan, antara ideal dengan kenyataan tidak selalu berbanding lurus.

Lalu, apa yang perlu dilakukan dalam berelasi? Mesti disadari bahwa kita masih memerlukan relasi dalam kehidupan kita, apapun bentuknya. Hanya saja ekspektasinya yang perlu dikelola dengan baik dan tepat supaya kita tidak terlalu baper (terbawa perasaan) dalam menyikapi dinamika berelasi. Kita perlu mengingat bahwa kita tidak bisa mengendalikan sikap, pikiran, perasaan, dan perilaku orang lain, tetapi ekspekstasi kita sepenuhnya di bawah kendali kita.

Berikut beberapa tips yang dapat berguna dalam sebuah relasi:

  1. Pahami dan belajar menerima bahwa semua orang memiliki kekurangan. Dengan demikian, kita belajar untuk tidak mudah kecewa saat pihak lain gagal memenuhi standar ekspektasi yang kita miliki. Misalnya, ketika partner kita tidak menanggapi atau terlambatan merespon, kita belajar memahami bahwa yang bersangkutan mungkin memiliki kesibukan tertentu sehingga memerlukan waktu untuk membalas teks yang kita kirimkan atau merespon dengan tepat.
  2. Mengingat hal yang positif. Ketika kita memfokuskan perhatian kita pada kekurangan orang lain—karena tidak berhasil memenuhi ekspektasi—kita akan melihatnya orang tersebut sebagai pribadi yang negatif. Padahal, tiap orang memiliki sisi positif. Jadi, ingatlah satu atau beberapa kebaikan yang mungkin akan melunturkan kekesalan kita kepada orang tersebut.
  3. Menurunkan ekspektasi kita terhadap orang lain, dengan demikian kita memiliki ketenangan hati

Jadi, kembali pada pertanyaan di awal, apakah semua relasi yang dekat akan mengecewakan dan tercium seperti bau yang tidak menyenangkan? Silakan kita masing-masing menjawab di dalam hati.

 

Low expectations are the key to happiness in life

-Christopher Miller

Author

  • Sandra Sutanto

    Full time lecturer at Faculty of Psychology UPH Child Psychologist at Klinik Anugerah GKI Gading Serpong Field of interest : Developmental & Health Psychology, Parenting

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait