Masalah lingkungan tidak pernah lepas dari peradaban manusia. Pencemaran lingkungan berpotensi menimbulkan ancaman bagi manusia, khususnya generasi mendatang. Kerusakan lingkungan yang banyak terjadi di antaranya adalah polusi (udara, air, suara, dll), limbah, hingga punahnya keanekaragaman hayati. Perilaku manusia memiliki peranan besar atas masalah-masalah lingkungan yang terjadi. Apa yang bisa kita lakukan agar kerusakan alam tidak terus meluas?

Hubungan antara manusia dan lingkungan bersifat timbal balik. Lingkungan berperan terhadap perilaku, pengalaman, dan kesejahteraan hidup manusia.  Sebaliknya, manusia dapat menampilkan perilaku yang bersahabat dengan lingkungan atau justru berperilaku yang merusak lingkungan. Masalah yang terjadi di lingkungan dapat diminimalisir apabila manusia mau mengembangkan perilaku yang bersahabat dengan lingkungan, atau yang biasa disebut dengan perilaku pro-lingkungan.

Perilaku pro-lingkungan merupakan perilaku yang dilakukan secara sadar untuk meminimalkan dampak negatif dari tindakan seseorang terhadap lingkungannya, seperti melakukan daur ulang, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, melakukan gerakan penghijauan, menghemat penggunaan energi, dan sebagainya. Perilaku pro-lingkungan juga mengacu pada perilaku yang paling sedikit membahayakan lingkungan atau perilaku yang paling bermanfaat bagi lingkungan. Lalu, bagaimana mendorong perilaku pro-lingkungan di antara individu?

Faktanya, perilaku pro-lingkungan dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya: pengalaman masa kecil; pengetahuan dan pendidikan; kepribadian; kontrol diri; nilai-nilai, sikap, paradigma terhadap lingkungan; tanggung jawab dan komitmen moral; place attachment; norma dan kebiasaan; dan beragam faktor demografis. Hasil tinjauan literatur yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa salah satu faktor yang berpengaruh terhadap munculnya perilaku pro-lingkungan adalah rasa tanggung jawab yang dimiliki setiap individu. Meskipun demikian, masih ada beberapa kalangan masyarakat yang mempertanyakan mengenai siapa yang harus bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan hidup. Apakah setiap individu? Kelompok/komunitas peduli lingkungan? Pemerintah? Atau pihak lainnya? Dengan kata lain, pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan fakta bahwa masih ada pihak yang menganggap kelestarian lingkungan bukan menjadi tanggung jawab pribadinya.

Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, penulis bersama kolega melakukan sebuah riset mengenai perilaku pro-lingkungan yang melibatkan masyarakat perkotaan usia dewasa (21 – 65 tahun). Dari penelitian tersebut, kami menemukan bahwa sebagian kecil partisipan belum menunjukkan perilaku pro-lingkungan. Kondisi ini terlihat dari sejumlah indikator, seperti, belum melakukan penghematan energi listrik dan air. Selain itu, mereka juga belum menerapkan prinsip 3R (reduce, recycle, dan reuse). Hal ini tergambar dari belum terbiasanya mereka melakukan upaya untuk mengurangi sampah, mendaur ulang, atau menggunakan kembali barang yang sudah dipakai. Lebih lanjut lagi, sebagian masyarakat menyatakan bahwa mereka umumnya merasa lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi (mobil atau sepedea motor) untuk bepergian dibandingkan dengan menggunakan transportasi publik.

Hasil penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa individu yang menganggap kelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab pribadinya akan cenderung menunjukkan perilaku menjaga lingkungan. Perilaku tersebut mencakup menghemat penggunaan air, mematikan AC di pagi dan malam hari, dan mematikan televisi jika tidak ditonton. Tidak hanya itu, individu yang merasa bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan juga cenderung memilah sampah-sampah yang bisa didaur ulang, menggunakan tas belanja yang bisa digunakan berulang kali, dan mengonsumsi makanan organik. Hal ini menggambarkan bahwa perilaku pro-lingkungan tumbuh dari kesadaran mengenai tanggung jawab pribadi terhadap kelestarian lingkungan.

Apa yang telah dipaparkan di atas memberikan sebuah gambaran bahwa upaya pemeliharaan lingkungan perlu dilakukan oleh setiap individu, mulai dari lingkungan terkecil seperti rumah. Sekecil apapun perubahan yang dilakukan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, akan berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup untuk generasi masa depan.

 

Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel ilmiah “The Role of Willingness to Sacrifice towards Pro-environmental Behavior in Jakarta Citizens” oleh Octavia, Caninsti & Arlinkasari (2018) yang diterbitkan di Proceedings of the 3rd International Conference of Computer, Environment, Agriculture, Social Science, Health Science, Engineering and Technology – ICEST.

Authors

Bagikan artikel ini

Artikel terkait