Kehidupan individu berjalan tahap demi tahap sesuai dengan tugas perkembangannya, mulai dari masa bayi hingga usia lanjut. Demikian juga halnya dalam sebuah keluarga. Tanpa disadari, setiap keluarga berkembang dan beradaptasi secara bertahap seperti hanya manusia secara individu. Kondisi ini dimulai dari mempersiapkan kehidupan keluarga hingga nantinya kembali hidup berdua bersama pasangan. Dalam hal ini ada peran-peran tertentu yang diharapkan dapat dicapai keluarga inti melalui capaian tahapan perkembangan dalam sebuah keluarga. Apa saja tahapan pekermbangan dalam sebuah keluarga?
Dalam paparannya mengenai siklus hidup dan perkembangan keluarga, Paul Mattessich & Reuben Hill menyatakan bahwa konsep tahap perkembangan keluarga digunakan untuk membandingkan variasi tuntutan kerja keluarga ketika seseorang memasuki usia dewasa, berkaitan dengan kehadiran, dan usia anak. Lebih lanjut lagi, teori tahapan perkembangan keluarga yang dikembangkan oleh Evelyn Millis Duvall mengidentifikasi bahwa setiap keluarga berkembang melalui delapan tahap perkembangan. Konsep ini didasarkan pada perhitungan usia anak tertua, yang berkembang dalam tahap-tahap tertentu.
Dalam setiap fase perkembangannya, pola pemikiran orang tua akan berbeda sesuai dengan tahapannya. Tidak hanya itu, perlakuan orang tua terhadap anak juga akan terus menyesuaikan dengan bertambahnya usia anak, yang semua itu berorientasi pada keberhasilan keluarga. Secara lebih lanjut, tahapan perkembangan keluarga yang digagas oleh Duvall dapat digambarkan sebagai berikut:
- Keluarga pemula (pasangan memulai tahap pernikahan). Pada tahap ini individu perlu menyesuaikan dengan pasangan, termasuk keluarga pasangan, juga menentukan konsep keluarga yang akan dibangun.
- Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua adalah bayi sampai umur 30 bulan). Pada tahap ini seseorang mulai berperan sebagai orang tua baru, sehingga perlu menyesuaikan diri dengan kehadiran anak.
- Keluarga dengan anak usia prasekolah (anak tertua berusia 30 bulan hingga 6 tahun). Tujuan keluarga pada tahap ini mengorganisasi kebutuhan-kebutuhan anak, juga mulai mengajarkan tentang sosialisasi kepada anak.
- Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua berumur 6 hingga 13 tahun). Keluarga pada tahap ini akan mengorganisasikan kebutuhan anak dan mengajarkan sosialisasi yang meluas pada lingkungan sekolah.
- Keluarga dengan anak remaja (anak tertua berumur 13 tahun ke atas). Pada tahap ini, orang tua akan mendampingi remaja dengan tanggung jawab yang semakin meluas. Orang tua juga perlu mempersiapkan diri untuk mulai berpisah dengan remaja ketika ia memutuskan sekolah di luar kota. Dalam hal ini tentu saja juga perlu mempersiapkan kebutuhan biaya yang semakin meningkat.
- Keluarga melepas anak usia dewasa muda (anak pertama hingga anak terakhir mulai meninggalkan rumah). Tahap ini orang tua mengajarkan anak untuk hidup mandiri lepas dari orang tua. Konsekuensinya orang tua juga mulai mempersiapkan kembali untuk hidup berdua dengan pasangan.
- Orangtua usia pertengahan (orang tua menjelang masa pensiun). Tugas orang tua pada tahap ini adalah mempersiapkan diri memasuki usia pensiun, agar tidak terjadi post power syndrom, termasuk menyesuaikan finansial yang tentunya akan berbeda. Padahal di sisi lain, faktor kesehatan juga sudah terjadi penurunan.
- Keluarga dalam masa pensiun dan lansia (pasangan suami istri telah memasuki usia pensiun, hingga salah satu meninggal dunia). Pada tahap ini, kondisi fisik semakin menurun, demikian juga halnya dengan finansial. Jika masih ada pasangan, ada baiknya untuk saling menjaga dan merawat pasangan dengan penuh syukur.
Sama halnya dengan tugas perkembangan individu, tugas perkembangan keluarga ini juga menjadi gambaran bagaimana tahapan perjalanan dalam sebuah keluarga akan terjadi. Jika tugas perkembangan ini dapat dijalani dengan baik, maka individu dan keluarga mampu melangkah ke tahap perkembangan berikutnya dengan baik pula.
