Kehidupan pernikahan merupakan suatu tahapan dan tugas perkembangan yang biasanya dihadapi pada tahap dewasa muda. Banyak sekali dinamika yang ditimbulkan dari kehidupan pernikahan, baik itu relasi suami-istri, orang tua-anak, maupun mertua-menantu. Ketika memasuki dunia pernikahan, seseorang akan masuk ke dalam tahap yang baru dalam kehidupan. Apalagi buat individu yang belum pernah masuk ke dalam dunia pernikahan, tentu perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dari masa lajang menjadi ada pasangan. Ketika memasuki dunia pernikahan, seringkali menjadi dinamika yang sulit, terutama untuk mengembangkan relasi mertua dan menantu yang baik. Seperti apa dinamikanya?

Seringkali mertua sudah memiliki harapan-harapan terhadap menantunya ketika memasuki dunia pernikahan yang mungkin belum bisa dicapai oleh seorang menantu. Demikian juga, menantu biasanya perlu adaptasi lebih untuk bisa memasuki dunia pernikahan baik sebagai suami-istri, sebagai ayah-ibu maupun dalam relasi suami-istri itu sendiri. Banyak konflik yang terjadi antara mertua dan menantu karena kedua pihak sama-sama memiliki harapan-harapan, tetap tidak berusaha memahami kondisi masing-masing.

Seorang individu ketika memasuki dunia pernikahan yang mungkin merupakan tahapan baru dalam kehidupan, tentunya perlu untuk beradaptasi dan belajar untuk menjadi seorang istri/suami yang sesuai dengan harapan pasangan. Individu tersebut juga perlu belajar untuk memahami budaya yang mungkin berbeda di setiap keluarga. Mungkin pola asuh yang dibentuk oleh orang tua kandung berbeda dengan pola asuh yang dibentuk oleh pihak keluarga pasangan. Tentunya hal ini perlu waktu untuk bisa memahami dan bisa masuk ke dalam hubungan yang tepat, yang mana ini kadang tidak mudah dan memerlukan waktu.

Begitu juga dengan dinamika orang tua yang melepas anaknya menikah, tentunya mereka ingin anak-anaknya bahagia dan mendapatkan pasangan yang tepat. Seorang mertua mungkin akan punya harapan bahwa menantu yang terpilih bisa membahagiakan dan melayani anaknya dengan sangat baik sama seperti ia juga sudah mengurus anaknya dengan sangat baik. Seorang orang tua tentu juga akan sangat berharap bahwa anak dan cucunya juga akan berkembang dengan sangat baik sehingga tentu punya harapan menantunya bisa memberikan hal yang diharapkan. Namun, terkadang masing-masing pihak tidak menyadari bahwa memasuki dunia pernikahan yang merupakan hal baru bagi masing-masing pihak tentunya tidak bisa cepat untuk bisa menyesuaikan diri dengan kondisi.

Seorang menantu yang masuk dalam dunia pernikahan tentunya perlu waktu untuk bisa beradaptasi dengan kondisi pernikahan dan juga dengan keluarga pasangan. Seorang mertua juga perlu beradaptasi untuk bisa menerima pasangan anaknya agar bisa diperlakukan layaknya anak sendiri. Masing-masing pihak perlu belajar dan memahami bahwa dengan adanya dunia yang baru ini, seseorang perlu untuk menurunkan ego masing-masing dan justru bekerja sama membantu supaya bisa mencapai harapan yang sesuai.

Mertua dan menantu perlu bisa belajar memahami untuk bisa berada pada suatu tahapan dalam hidup, perlu ada proses yang dilalui. Seorang menantu untuk bisa menerima mertuanya layaknya orang tua kandung, perlu belajar untuk beradaptasi dengan cara-cara, pola asuh, kebiasaan-kebiasaan yang terjadi karena mungkin hal itu suatu hal yang baru bagi dirinya. Begitupun mertua, juga perlu untuk belajar memahami bahwa pasangan anaknya juga mungkin dibesarkan dengan cara yang berbeda dengan cara ia mendidik anaknya dan perlu untuk memahami bahwa berbeda itu bukanlah suatu yang perlu dijadikan konflik. Relasi orang tua dan anak kandung pun terkadang juga perlu belajar untuk saling memahami dan seringkali menimbulkan konflik yang cukup dalam di masing-masing pihak.

Beberapa tips yang perlu disadari ketika seseorang memasuki dunia pernikahan, seseorang perlu memahami bahwa memasuki dunia yang baru akan perlu proses di dalamnya. Baik mertua dan menantu perlu belajar untuk bisa sama-sama melewati proses masing-masing dengan belajar untuk memahami dan saling memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menikmati setiap proses yang berbeda karena dunia yang baru. Mertua perlu untuk memberikan ruang kepada anak dan menantu untuk belajar mandiri membangun suatu keluarga dan perlu belajar memberikan ruang kepada pasangan anaknya untuk belajar budaya yang sudah ia bentuk agar bisa beradaptasi. Menantu perlu belajar untuk menerima orang tua pasangan dengan segala perbedaan baik dalam budaya, cara komunikasi, gaya bahasa dan sebagainya agar bisa terjalin hubungan yang harmonis.

Author

Bagikan artikel ini

Artikel terkait