Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa sebanyak 21,8% generasi muda Indonesia yang berusia di atas 18 tahun mengalami obesitas. Angka tersebut juga terus mengalami peningkatan selama 5 tahun terakhir. Timbulnya masalah yang berkaitan dengan peningkatan berat badan dan obesitas pada generasi muda disebabkan oleh banyak faktor, antara lain konsumi makan yang tinggi lemak dan gula. Riset juga menyebutkan bahwa terdapat faktor lain yang mendorong munculnya obesitas, yaitu stresor dari tuntutan tahapan perkembangan yang harus dipenuhi. Di saat yang bersamaan, kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dalam hal apapun dapat menjadi stresor yang saat ini sering dialami oleh generasi muda yang berusia 18-25 tahun. Mengapa stres bisa memicu obesitas dan bagaimana mengatasinya?

Ketika dihadapkan dalam situasi yang menekan dan memicu timbulnya stres, maka individu akan secara langsung mencari strategi untuk mengatasinya atau biasa disebut sebagai coping. Salah satunya yaitu makan. Sayangnya, terkadang situasi tertekan dan stres yang dialami generasi muda cenderung dapat mengubah pola makannya menjadi kurang sehat. Perubahan pola perilaku makan ke arah yang tidak sehat akibat adanya stresor ini dikenal dengan istilah ‘emotinal eating’. Para ahli mendefinisikan emotional eating sebagai respon individu yang disebabkan oleh adanya stresor, sehingga membuat mereka mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak dan melebihi kebutuhan gizinya, yang dapat disusul dengan fenomena peningkatan berat badan.

Beberapa ciri perilaku makan yang dikategorikan sebagai emotional eating antara lain: terjadi secara mendadak, hanya tertuju pada makanan tertentu, sumber rasa lapar bukan dari perut tetapi dari emosi, dan tidak mudah merasa kenyang. Banyak penelitian yang membahas tentang emotional eating pada generasi muda akibat situasi yang menekan dan menimbulkan rasa stres. Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa di Surabaya tahun 2020 menemukan bahwa sebesar 23,6% partisipan akan mengonsumsi makanan berlebih ketika sedang stres, dan 23,5% responden menyatakan bahwa makanan adalah cara untuk mengatasi stres. Tidak hanya pada mahasiswa, penelitian yang dilakukan kepada para tenaga kesehatan juga menemukan bahwa situasi yang menekan memberi dampak pada pola makan sekitar 60,4% partisipan penelitian.

Dampak serius yang dapat ditimbulkan apabila generasi muda secara terus-menerus melakukan emotional eating adalah kenaikan berat badan dan obesitas. Sebab, individu yang melakukan emotional eating cenderung memilih makanan yang tinggi energi, lemak, dan gula. Pemilihan makanan tersebut disebabkan makanan yang mengandung tinggi lemak dan energi akan menimbulkan rasa nyaman, meskipun tidak dapat menyelesaikan masalah. Dengan demikian, diperlukan strategi yang dapat dilakukan untuk meminimalisir generasi muda melakukan emotional eating agar angka obesitas pada usia muda tidak terus meningkat.

Strategi yang dapat dilakukan untuk menekan munculnya emotional eating pada generasi muda ketika dihadapkan dalam situasi yang menekan adalah dengan journaling dan relaksasi. Teknik journaling dapat digunakan untuk melepaskan pengalaman emosional dari dalam diri seseorang. Salah satunya dengan menuliskan hal apa yang menjadi penyebab munculnya stres. Selain itu, relaksasi juga dapat dilakukan untuk memanajemen stres. Teknik relaksasi yang dapat dilakukan di antaranya yoga sederhana, relaksasi pernafasan, butterfly hug, dan musik instrumental.

Kedua metode pengendalian stres tersebut, journaling dan relaksasi, diharapkan dapat membantu para generasi mudah untuk mencegah emotional eating. Melalui pengendalian stres, pola makan akan lebih teratur dan kandungan asupan gizi tetap terjaga. Kemampuan dan keterampilan ini akan membantu kita menjaga kesehatan tubuh, yang tentunya akan berdampak pula pada kesehatan mental.

Author

Bagikan artikel ini

Artikel terkait