Gangguan depresi merupakan isu kesehatan mental yang serius di tengah masyarakat dan penanganannya masih menjadi PR besar bagi semua pihak. Penanganan gangguan depresi yang efektif bisa dimulai dari identifikasi yang tepat mengenai akar permasalahannya. Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa depresi dikaitkan dan juga disebabkan karena lemahnya iman atau kurangnya ikatan spiritualitas/religiusitas seseorang. Pada sejumlah kasus, masyarakat seringkali menuding orang mengalami depresi karena lemah iman. Padahal, depresi justru seringkali disebabkan karena lemahnya dukungan sosial. Dalam hal ini, masyarakat yang seharusnya menjadi support system secara ironis malah memberikan tudingan-tudingan negatif tertentu kepada seseorang yang mengalami gangguan depresi.
Sikap masyarakat semacam ini yang membuat seseorang yang mengalami gangguan depresi cenderung memilih untuk menyembunyikan keluhannya dan enggan pergi untuk konsultasi ke psikiater atau psikolog. Iman yang rendah tidak serta merta menyebabkan depresi, tetapi sebaliknya depresi dapat menyebabkan rendahnya iman. Kenapa bisa seperti itu? Karena ketika seseorang yang mengalami depresi ia akan merasa tidak memiliki energi untuk melakukan aktivitas apapun seperti dengan kegiatan sehari-hari, termasuk kegiatan ibadah.
Apabila si penderita depresi dibiarkan terus berada dalam emosi yang negatif seperti rasa sedih, benci, putus asa, iri, kecemasan, dan kurang bersyukur, maka sistem kekebalannya juga akan menjadi lemah. Freud juga mengatakan bahwa pasien depresi meluapkan segala kemarahannya langsung ditujukan ke dalam diri sendiri sebagai identifikasi dengan obyek. Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa penderita depresi memiliki permasalahan terkait dengan ketidakpuasan terhadap penampilan (82%), prestasi belajar (53%), mendapatkan perlakuan yang tidak diharapkan dari teman-teman (53%), mendapatkan perlakuan keras dari orang tua (41%), serta relasi yang buruk dengan orang tua (41%). Adapun sumber lain mengatakan bahwa depresi dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor genetik, biologi, lingkungan, dan juga faktor psikologis.
Persoalan depresi dan lemah iman menjadi isu dan topik yang masih sensitif bagi sebagian banyak orang. Masih banyak para penyintas depresi ketika mereka butuh pertolongan dari lingkungan sosial dan butuh motivasi dari orang-orang sekitar, tetapi terkadang lingkungan tersebut memberikan tamparan dengan mengatakan jika seseorang yang mengalami depresi itu tidak butuh yang namanya motivasi, melainkan ia butuh pertolongan Tuhan dan ia harus dekat dengan Tuhannya. Seakan-akan para penyintas depresi itu dituduh bahwa mereka tidak punya iman, lantaran mencurahkan masalah bukan kepada Tuhan melainkan kepada manusia. Seringkali kita lupa bahwa beberapa orang butuh untuk mendapat penguatan dan dukungan dari manusia terlebih dahulu sebelum mengadu kepada Tuhan.
Lalu, apakah ada hubungan antara “agama” dan “depresi”? Apakah benar bahwa orang yang mempunyai tingkat religiusitas yang tinggi tidak butuh psikolog? Apakah orang religius memiliki kekebalan terhadap mental illness? Penelitian dari Columbia University menemukan bahwa seorang individu yang menganggap agama dan kepercayaan spiritualitas itu penting bagi kehidupan memiliki tingkat depresi yang rendah. Namun, penelitian tersebut juga menjelaskan juga bahwa frekuensi ibadah tidak berpengaruh terhadap depresi. Dengan kata lain, menjalankan ibadah saja tidak cukup untuk mengatasi depresi, tanpa disertai keyakinan spiritual atau aspek religius lain dan terutama dukungan sosial dari lingkungan.
Bagi masyarakat yang di lingkungannya terdapat seseorang dengan penyintas depresi seyogyanya dapat mengulurkan tangannya untuk mendukung, memotivasi penyintas depresi agar mendapat kekuatan dari mereka untuk bangkit dari keterpurukannya. Di satu sisi kita mungkin meyakini bahwa iman dan kedekatan dengan Tuhan dapat menolong seseorang dari depresi, tetapi di sisi lain lemahnya iman seseorang sebaiknya tidak menjadi dasar bagi kita untuk menjustifikasi depresi yang dialami orang tersebut, karena hasilnya seringkali justru kontraproduktif.
