Saat ini, berdasarkan pengamatan, banyak anak-anak usia balita yang beraktivitas dengan ponsel pintarnya. Saat makan, melakukan aktivitas di ponsel pintar; Saat sedang menunggu, beraktivitas dengan ponsel pintar. Entah menonton Youtube, menonton saluran khusus anak-anak, atau games bagi anak-anak, dan sejenisnya. Apalagi didukung oleh berbagai alasan dari orang tua atau orang dewasa: “supaya anaknya tenang”, “dari pada dia nangis”, “saya kan sibuk”, “zaman now kan semua pakai ponsel pintar”, “dia pakai ponsel pintar belajar bahasa Inggris kok”, “anak lain pakai ponsel pintar masa anak saya enggak”, “sekarang kan pandemi Covid-19 materi belajar anak semua pakai laptop atau ponsel pintar”, “dia capek belajar makanya pakai ponsel pintar kan itu main juga”, dll. Lalu, apakah aktivitas dengan ponsel pintar dapat dikatakan sebagai bermain?

Suatu aktivitas disebut sebagai bermain apabila memiliki ciri-ciri: aktivitas yang dilakukan menyenangkan, pelakunya terlibat secara aktif baik secara fisik maupun psikologis, dipilih secara bebas, ada unsur imajinasi, dan berasal dari motivasi sendiri. Apabila dikaitkan, aktivitas menggunakan ponsel pintar merupakan bermain, bisa saja benar. Namun, perlu diketahui bahwa setiap usia perkembangan memiliki aktivitas bermain yang berbeda-beda. Adapun jenis bermain bagi anak-anak adalah sebagai berikut:

Pertama adalah bermain fungsional, yaitu bermain dengan pergerakan otot-otot tubuh, misalnya menendang bola, membentuk plastisin/play dough. Bermain jenis ini biasanya dilakukan oleh anak usia dua tahun. Kedua adalah bermain konstruktif, yaitu bermain yang di dalamnya ada aktivitas membentuk sesuatu, misalnya menyusun balok menjadi sebuah miniatur rumah. Bermain jenis ini biasanya dilakukan oleh anak usia tiga tahun.

Ketiga adalah bermain imajinatif, yaitu bermain yang dilakukan dengan memerankan peran-peran tertentu, misalnya bermain guru-murid, dokter-pasien. Bermain ini biasanya dilakukan oleh anak-anak usia prasekolah, yaitu usia tiga hingga lima tahun. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang bermain peran diasosiasikan dengan kompetensi dalam aspek sosial dan bahasa. Keempat adalah bermain formal dengan aturan, yaitu bermain yang di dalamnya terdapat aturan. Misalnya, bemain petak-umpet, bermain ular tangga. Bermain jenis ini biasanya dilakukan oleh anak mulai usia enam atau tujuh tahun.

Selanjutnya, apa dampak bermain bagi anak?

Bermain berkontribusi pada semua aspek perkembangan. Melalui bermain, anak-anak merangsang indera tubuh, melatih otot tubuh, mengkoordinasikan gerakan tubuh, membuat keputusan, dan memperoleh keterampilan baru. Bermain penting dalam perkembangan kesehatan tubuh dan otak. Bermain juga menyiapkan anak untuk kehidupan saat dewasa. Tentunya, bermain juga merupakan hak asasi setiap anak menurut Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia.

Jadi, bermain sangat penting bagi perkembangan anak. Dengan demikian, bagi yang terlibat dalam pengasuah anak, ayo, ajak anak-anak bermain!

Author

Bagikan artikel ini

Artikel terkait