Dua Arah Mata Pedang Kesehatan Mental; Antara Fakta, Data, dan Cerita

Saat ini isu kesehatan mental terus digaungkan oleh berbagai pihak, kita dapat melihat saat ini banyak sekali layanan kesehatan mental berbasis daring dengan berbagai macam tawaran layanan psikologi yang dapat diberikan, mulai dari yang gratis hingga bertaraf. Sebut saja Riliv, Pijar Psikologi, Ibunda.id, dan Berbagicerita.id merupakan platform layanan konseling psikologi berbasis psikologi. Tawaran yang diberikan pun juga tidak kalah menarik mulai dari konseling gratis selama 45 menit hingga 60 menit, layanan konseling berbasis teks hingga video call, dan dari bayar semampunya hingga bertarak 100.000 ke atas. Di sisi lain kita dapat melihat isu-isu kesehatan mental pun juga sudah mulai kerap dibahas oleh berbagai media nasional, dari TV, radio, hingga para youtuber mulai tergerak membahas mengenai kesehatan mental.

Tanpa disadari terbukanya informasi mengenai kesehatan mental menjadi buah simalakama. Winarto mendefinisikan globalisasi sebagai suatu proses yang menempatkan masyarakat dunia, yang dapat dijangkau dengan mudah dengan adanya keterhubungan satu dengan lainnya dalam semua aspek kehidupan seperti budaya, ekonomi, politik, teknologi, maupun lingkungan. Fenomena globalisasi tanpa sadar berdampak pada isu kesehatan mental, semakin terbukanya informasi membuat informasi mengenai kesehatan mental semakin terbuka lebar tanpa disadari muncullah fenomena baru berupa self diagnosis hingga romantisasi gangguan mental.

Mudahnya informasi mengenai kesehatan mental untuk diakses membuat masyarakat dengan mudah mencari tahu melalui internet, cukup menulis kata “depresi” maka Google akan memberikan informasi yang cukup banyak mulai dari gejala, kriteria, gangguan penyerta, dan semua hal mengenai depresi. Hal ini membuat orang dengan mudah menjustifikasi diri mereka mengidap gangguan mental tertentu berdasarkan informasi yang didapatkan melalui internet, hasil dari mecocokkan antara gejala di internet dengan refleksi diri menjadikan diagnosis mutlak. Di sisi lain kita berhadapan juga dengan isu romantisasi gangguan mental, setelah mendapatkan “diagnosis” dari internet maka masuk ke fase seakan menikmati memiliki gangguan mental, senang dengan memiliki gangguan mental, dan bangga memiliki gangguan mental.

Tanpa bermaksud memandang buruk mereka yang memiliki gangguan mental berdasarkan diagnosis profesional, fenomena self diagnosis dan romantisasi gangguan mental menjadi dua fenomena yang perlu diperhatikan agar tidak banyak masyarakat yang terjerumus dalam hal ini. Sudah seharusnya kita dari kalangan profesional untuk terus menerus memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat bahwa diagnosis gangguan mental tidak semudah itu didapatkan dan mereka yang berjuang dengan gangguan mental adalah orang-orang hebat yang penuh perjuangan menghadapi gangguan ini.

Melalui tulisan ini, saya mengajak kepada seluruh masyarakat untuk lebih melek kesehatan mental dan memahami makna kesehatan mental bukan hanya sekedar gangguan mental saja melainkan masih ada banyak variabel lainnya mengenai kesehatan mental dan salah satunya adalah mendatangi profesional. Boleh kita mencari informasi di internet mengenai suatu gejala sebagai salah satu cara untuk meningkatkan awareneness dalam diri, namun bukan untuk mengatakan “Saya memiliki gangguan mental”.

Author

  • Bagas Rahmatullah

    Bagas Rahmatullah merupakan founder Berbagicerita.id, sebuah platform layanan konseling gratis berbasis online. Minat dalam bidang Mental Health Community Development.

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait