Membuat rapport menjadi suatu hal yang harus dilakukan untuk membangun kepercayaan dengan klien atau orang lain. Kepercayaan yang diperoleh akan menjadi landasan untuk membangun kolaborasi, memengaruhi orang lain atau melakukan hal produktif lainnya. Namun demikian, seringkali kita tidak terlalu memikirkan strategi dalam membentuk rapport atau melakukan pendekatan yang layak.
Pada konteks konseling, misalnya konseling pada anak, kita hanya berfokus untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin dengan melakukan tanya jawab dengan klien (anak). Ternyata cara seperti ini kurang efektif dan malah membuat klien melakukan blocking, merasa tidak nyaman, seperti merasa diinterogasi oleh psikolog atau konselor.
Dalam artikelnya yang diterbitkan di Psychology Today, Aldo Civico menyebutkan beberapa strategi yang bisa digunakan untuk membuat rapport yang baik, sebagai berikut :
- Masuki dunianya. Salah satu pengalaman yang berkesan bagi saya adalah mendapatkan informasi lebih banyak saat klien anak menjawab pertanyaan saat bermain. Bermain yang dimaksud bisa berbagai macam, mulai dari mewarnai gambar, menyusun lego atau menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. Tunjukan ketertarikan dan rasa ingin tahu terhadap hal yang disukainya. Cobalah untuk mengerti dan tidak menghakimi informasi yang diberikan. Strategi yang sama juga berlaku bagi orang dewasa. Jika Anda ingin menggali informasi atau menggolkan rencana tertentu, lakukan pada saat Anda terlibat dalam dunia lawan bicara Anda, misalnya menemani kawan Anda melakukan hobi bermain golf atau menemani saat hang-out.
- Mendengar dengan aktif. Situasi frustrasi cenderung membuat kita untuk berbicara tanpa henti. Untuk membangun rasa percaya, mulailah dengan mendengar secara aktif. Mendengar secara aktif berarti kita menenangkan semua pikiran yang mungkin hilir mudik di pikiran kita, menghentikan semua proses berbicara dalam diri (inner chatter) sehingga bisa sepenuhnya mendengarkan lawan bicara. Untuk bisa mendengar, kita bisa memulai dengan menanyakan ‘what’ atau ‘how’ dibandingkan dengan menanyakan ‘why’ yang akan membuat seseorang menjadi defensif.
- Dapatkan sudut pandang dari pihak lain. Ketika kita bersikeras untuk bertahan pada opini yang kita miliki, kita akan lebih sulit untuk memahami orang lain. Siapkan diri untuk mulai menyadari sepenuhnya apa yang menjadi kebutuhan dan niatan kita saat berinteraksi dengan orang lain, misalnya saya butuh untuk mendapatkan informasi dengan lebih jelas. Setelahnya, tempatkan diri kita dalam posisi orang tersebut dengan mencoba berempati, sehingga kita bisa memahami dan mendapatkan wawasan yang lebih baik. Hal tersebut bisa dimunculkan dengan menanyakan ‘apa yang dilihat/dipersepsikan oleh orang tersebut?’
Dengan mencoba untuk mengerti informasi, mendengar aktif, dan memahami sudut pandang orang lain, kita sudah membentuk jembatan yang akan berujung pada kepercayaan.
