Alat Ukur Psikologi dan Kura-kura Ninja (dengan Sedikit Bumbu Ayam Goreng)

Suatu hari, seorang teman bertanya kepada saya, mengapa untuk menyusun alat ukur psikologi membutuhkan cara rumit dan waktu yang amat-sangat lama? Bukankah kita cukup menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia saja? Saya tertawa dalam hati, wah belum tahu dia! Sebagai gambaran, alat ukur yang saya gunakan dalam tesis saya kemarin membutuhkan waktu kurang lebih 6 bulan dari proses translasi hingga bisa digunakan. Proses ini mencakup alih bahasa ke bahasa Indonesia-sintesa-back translate-uji baca-uji ahli baru ke pilot study. Jika hasil pilot studi ternyata tidak bagus? Ya, silahkan kembali ke awal.

Kuesioner yang biasa Anda isi kalau ada penelitian psikologi itu kami sebut sebagai alat ukur psikologi. Alat ukur ini sebenarnya banyak jenisnya, ada yang bentuknya kuesioner yang banyak dipakai, atau gambar-gambar seperti tes psikologi, atau permainan-permainan yang biasanya untuk partisipan anak-anak. Yang pasti tujuannya sama, memberikan stimulus tertentu pada partisipan agar keluar respon tertentu. Hasil respon ini yang kemudian para ilmuwan psikologi dan psikolog ini hitung dan bandingkan dengan orang lain ataupun dikaitkan dengan variabel lain. Menyusunnya cukup memberikan tantangan.

Saya coba ilustrasikan dengan kisah di bawah ya:

Saya ingat sekali, saat semester pertama atau kedua, ketika pelajaran Sosiologi ada sebuah kejadian lucu yang kalau dingat membuat geli sendiri. Saat itu dosen saya entah menjelaskan apa, kemudian bertanya kepada para mahasiswanya. “Contohnya nih, ketika saya menanyakan kepada kalian, kalau mendengar kata Donatello, apa yang kira-kira muncul di benak kalian?” Lebih dari separuh mahasiswa perempuan yang di dalam ruangan menjawab dengan kompak “Sepatuuu!”. Sementara, saya yang berada di bangku depan dengan percaya diri dan lantang menjawab “Kura-kura Ninjaaaaa!” Dosen yang sedang serius pun jadi tertawa terbahak-bahak.

Kejadian di atas merupakan kejadian nyata. Saya, yang lahir di Probolinggo dan besar di Leces, tidak pernah tahu jika Donatello itu identik dengan merk sepatu terkenal (yang baru saya tahu ada tokonya di Margonda, Depok, beberapa bulan setelahnya).  Saya hanya tahu jika Donatello, bersama dengan Leonardo, Michaelangelo dan Raphael, adalah empat bersaudara kura-kura ninja. Nama keempat kura-kura ninja sendiri didapat dari empat orang seniman yang hebat di zamannya.

Apakah jawaban saya salah? Tentu saja jawabannya, “bergantung” (sekadar informasi, menurut guru bahasa Indonesia saya, yang benar adalah “bergantung”, bukan “tergantung”). Manusia memiliki cara unik dalam menyimpan informasi di dalam otak mereka. Jika diibaratkan, otak berisi banyak laci dengan label-label tertentu dan label yang memiliki kategorisasi yang sama biasanya akan dijadikan satu kelompok besar. Dengan demikian ketika salah satu label “dipanggil” atau distimulus, misalnya, maka label yang lain akan ikut teraktifkan.

Teman-teman saya mengasosiasikan Donatello dengan Sepatu karena mereka memiliki pemahaman sebelumnya (prior knowledge) mengenai sepatu merk Donatello. Tidak heran mereka dengan cepat menjawab “sepatu” karena asosiasi Donatello-sepatu lebih mudah mereka ambil daripada saya, yang sama sekali tidak memiliki pengalaman memiliki sepatu bermerk Donatello. Satu-satunya pengalaman saya mengenai nama Donatello di dapat dari salah satu film kartun kesukaan kakak laki-laki saya: Teenage Mutant Ninja Turtles.

Pengalaman-pengalaman sebelumnya ini yang membuat masing-masing orang memiliki keunikan pemikiran sendiri-sendiri. Setiap manusia memiliki masing pengalaman yang berbeda, asosiasi yang berbeda dan penghayatan yang berbeda pula. Seseorang yang mengasosiasikan donatello dengan sepatu, sementara yang lain mengkaitkan dengan kura-kura ninja. Mungkin lagi, ada yang mengkaitkan dengan lukisan atau bahkan ada memikirkan mengenai makanan ketika mendengar kata tersebut (donat dari bahan telo).

Hal yang sama juga terjadi di kala kita mempersepsikan “ayam goreng” dan “fried chicken”. Kedua kata tersebut sebenarnya memiliki makna yang sama, tetapi saat dihadapkan pada masyarakat, saya tidak yakin jika keduanya akan dipersepsi yang serupa. Bagi saya sendiri, “ayam goreng” identik dengan jenis ayam yang digoreng bumbu lengkuas sementara fried chicken saya bayangkan sebagai ayam goreng tepung serupa dengan merk terkenal dari Amerika.

Perbedaan-perbedaan seperti itu yang membuat menyusun alat ukur bagi ilmuwan psikologi adalah tantangan tersendiri. Jangan sampai, pertanyaan-pertanyaan yang diberikan berpotensi mengandung dua jawaban. Seringkali peneliti harus memperhatikan partisipan yang akan mengerjakan alat ukur yang diberikan; apakah mereka cukup terbiasa dengan kata-kata tertentu. Selain itu, jangan sampai terlalu berat pada kultur atau budaya tertentu. Beberapa kata di daerah Jawa bisa bermakna berbeda saat dipahami oleh mereka yang dari Sumatera atau Papua. Pertimbangan-pertimbangan inilah yang harus diperhatikan saat menyusun kuesioner atau alat ukur psikologi dan membuat penyusunan alat ukur menjadi sesuatu yang membutuhkan waktu lama dan tentu saja, menantang.

 

 

Author

Bagikan artikel ini

Artikel terkait