Saat liburan tiba, banyak dari kita cenderung terpaku pada layar gadget, melewatkan momen-momen berharga dengan keluarga dan teman-teman. Namun, apakah kita benar-benar menikmati momen itu secara penuh? Liburan sekolah saatnya untuk bermain, lalu permainan apa yang disediakan? Liburan dua hingga tiga minggu, apa yang bisa dilakukan?

Harapannya, liburan dapat membuat anak refreshing. Namun, banyak orang tua terkendala dengan segudang aktivitas dan pekerjaannya masing-masing. Alhasil, sulit rasanya bagi sebagian orang tua untuk mencegah anaknya bermain gawai. Mari kita coba jelajahi sejumlah cara yang dapat membantu untuk “menonaktifkan” gadget sementara waktu dan menikmati liburan dengan lebih menyeluruh, serta menciptakan kenangan yang tak terlupakan bersama orang-orang terkasih.

Fakta tentang penggunaan gawai

Mari kita mulai dulu dengan fakta-fakta ilmiah mengenai dampak penggunaan gawai bagi kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup anak dan remaja. Sebuah riset yang diterbitkan pada tahun 2022 mengungkapkan bahwa penggunaan smartphone yang berlebihan pada remaja dapat berdampak pada menurunnya kesehatan mental dan keberfungsian sosial. Penelitian lainnya juga meungkapkan bagaimana dampak durasi screen time terhadap kualitas tidur. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa akses atau penggunaan perangkat media berbasis layar dapat berdampak negatif pada kualitas tidur anak dan remaja. Tidak hanya itu, penggunan gawai yang berlebihan pada anak dapat berdampak buruk bagi status kesehatan, mulai dari obesitas, gangguan kardiovaskular, peningkatan hormon stres, hingga meningkatnya kecemasan. Dampak-dampak tersebut sangat mungkin terjadi ketika pemakaian gawai berlebihan. Oleh karena itu, kita perlu melakukan pencegahan dan melatih disiplin kita dalam menggunakan gawai.

Disiplin gawai dengan Triple B

Adapun yang dapat dilakukan dengan menggunakan teknik Triple B (3 B) yaitu: Batasi, Bermain, Berolahraga. Mari kita bahas satu per satu. Pertama Batasi, yang dimaksud dengan batasi adalah bukan hanya membatasi secara durasi, tetapi juga diberikan batasan penggunaan gawai di ruang makan ataupun kamar tidur. Hal ini dikarenakan tempat makan dapat menjadi tempat untuk berkomunikasi, diskusi sehingga meningkatkan kualias hubungan antar anggora keluarga sedangkan tempat tidur seharusnya tempat istirahat sehingga tetap dapat menjaga kualitas tidur tanpa terganggu dentingan atau suara notifikasi dari handphone.

Kedua, Bermain merupakan bagian kehidupan anak ataupun orang dewasa. Berikan waktu untuk bermain baik bermain gawai maupun bermain di luar ruangan ataupun memberikan kesempatan untuk bermaian di wahana permaianan. Anak-anak akan senang jika mendapatkan pengalaman terkait aneka permainan. Hal ini juga berarti jika orang tua melarang bermain handphone maka harus menyediakan permainan lain yang tak kalah seru dengan gawai mereka dan ini tentu membutuhkan kreativitas.

Ketiga, Berolahraga atau aktivitas fisik. Ada beraneka ragam olah raga baik individu maupun kelompok. Anak-anak dapat menyalurkan energinya melalui aktivitas olahraga manapun. misalnya lari, berenang, bersepeda ataupun bermain bola  bersama teman-temannya.

Meskipun teknologi dan kehidupan saat ini tidak terpisahkan, kita perlu untuk mengatur dan membatasi agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi anak-anak kita. Efek yang ditimbulkan akibat screen time berlebihan adalah dalam jangka panjang bukan jangka pendek. Oleh karena itu, kita perlu menanamkan “disiplin” secara mandiri, yaitu istirahat dari layar gawai. Dan disiplin ini juga dapat kita mulai dari diri kita sendiri sebagai orang dewas. Selamat berdisiplin gawai!

Author

Bagikan artikel ini

Artikel terkait